Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.
TUTUR, Suarabangilmedia.com – Persiapan Nongkojajar Culture Festival 2025 semestinya menjadi momen gembira. Panggung utama sudah berdiri megah di samping Masjid Besar An Nur Nongkojajar, Desa Wonosari. Namun, Kamis (25/9) pagi, suasana sempat berubah panik.
Seorang pekerja, Wahyu Mulyajati (24), tersengat listrik ketika sedang memasang peralatan teknis di area panggung. Kabel listrik yang tanpa sengaja menempel ke kepalanya membuat Wahyu tak sadarkan diri. Rekan-rekan panitia segera berlari, menolong, dan membawanya ke Puskesmas. Karena kondisinya cukup serius, ia akhirnya dirujuk ke RSUD Lawang.
Beruntung, Wahyu selamat. Namun, luka sobek di tangan kanan dan luka bakar di kepala menjadi saksi nyata betapa keselamatan kerja sering terabaikan dalam sebuah acara besar.
Panitia festival, lewat pernyataan Aris, memastikan bahwa korban mendapat pendampingan penuh, termasuk pembiayaan medis. Sikap ini layak diapresiasi. Tapi peristiwa ini juga meninggalkan pesan mendalam: budaya kita tidak boleh mengabaikan keselamatan orang-orang di balik panggung.
Nongkojajar Culture Festival adalah ajang kebanggaan, wadah bagi masyarakat menunjukkan identitas dan kreativitas. Namun, agar sebuah perayaan benar-benar bermakna, faktor keamanan dan keselamatan teknis harus berjalan seiring dengan semaraknya acara.
Kabel listrik, instalasi panggung, bahkan hal sederhana seperti helm kerja dan sarung tangan, bisa jadi penyelamat. Insiden Wahyu seharusnya menjadi pengingat, bahwa di balik gemerlap festival, ada pekerja-pekerja lapangan yang berjuang memastikan semuanya berjalan lancar. Mereka pantas mendapatkan perlindungan maksimal.
Di akhir kisahnya, Wahyu mungkin akan pulih, panitia tetap bisa melanjutkan acara, dan masyarakat kembali larut dalam euforia festival. Namun, pelajaran dari insiden ini harus tertanam: budaya tidak hanya dirayakan dengan tarian dan musik, tapi juga dengan kesadaran menjaga keselamatan manusia yang menjadi bagian dari peradaban itu sendiri. (*)