Madu Randu Lumbang, Usaha Turun-Temurun yang Tetap Prospektif di Kabupaten Pasuruan
PASURUAN, Suara Bangil Media โ Kabupaten Pasuruan dikenal sebagai daerah dengan beragam potensi alam dan ekonomi di setiap kecamatannya. Salah satu wilayah yang menonjol adalah Lumbang, yang tidak hanya terkenal sebagai sentra durian, tetapi juga sebagai kawasan budidaya lebah madu yang telah berlangsung puluhan tahun.
Sejumlah desa seperti Welulang, Banjarimbo, Panditan, hingga Watulumbung masih mempertahankan tradisi beternak lebah penghasil madu. Di Desa Welulang, aktivitas ini bahkan menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian warga.
Salah satunya Tiagus (45), peternak lebah madu yang telah menekuni usaha tersebut selama sekitar dua dekade. Ia fokus membudidayakan lebah penghasil madu randu, jenis madu yang berasal dari nektar bunga pohon randu dan banyak diminati masyarakat.
Menurutnya, madu randu memiliki karakteristik khas, baik dari segi aroma, rasa, warna, maupun sensasi hangat yang cepat terasa saat dikonsumsi.
โRasanya segar, ada khasnya, dan ketika diminum langsung terasa hangat di tenggorokan,โ ujarnya saat memanen madu, Sabtu (21/2/2026).
Untuk menghasilkan madu berkualitas, Tiagus memelihara ratusan ribu lebah jenis Apis mellifera. Lebah ini dikenal produktif dan mampu menghasilkan madu dalam jumlah besar setiap musim panen. Dari sekitar 100 kotak koloni lebah, ia dapat memanen hingga 4โ5 kwintal madu segar dalam satu periode.
โDalam satu set berisi sekitar 100 kotak koloni, hasil panennya bisa mencapai lima kwintal,โ jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas dan rasa madu sangat dipengaruhi oleh sumber nektar di alam serta kondisi cuaca. Selain bunga randu, lebah juga menghisap nektar dari berbagai tanaman lain seperti vernonia, mangga, karet, kopi, hingga kesambi. Khusus madu dari lebah mellifera, panen dapat dilakukan sekitar setiap 15 hari saat musim bunga berlangsung.
Meski menjanjikan, usaha ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Cuaca buruk dapat menyebabkan bunga rontok sehingga produksi menurun, bahkan gagal panen. Selain itu, risiko pencurian juga tetap ada meski tidak terlalu sering terjadi.
โKalau cuaca bagus hasilnya bagus, tapi kalau sering hujan bunga rontok duluan, jadi panennya tidak maksimal,โ ungkapnya.
Untuk pemasaran, madu dijual dalam bentuk partai maupun ecer. Harga partai sekitar Rp65 ribu per kilogram, sedangkan penjualan ecer mencapai Rp80 ribu per kilogram.
โKalau sudah rezeki, 15 hari bisa panen sampai lima kwintal. Tapi kalau belum, ya harus sabar,โ katanya.
Camat Lumbang, Didik Surianto, menyebut Desa Welulang sebagai wilayah dengan jumlah peternak lebah terbanyak di kecamatan tersebut. Ia menilai budidaya madu memiliki prospek ekonomi yang sangat baik bagi masyarakat.
Permintaan madu bahkan melonjak tajam saat pandemi Covid-19 pada 2020โ2021, ketika masyarakat mencari produk alami untuk menjaga kesehatan. Tingginya permintaan membuat para peternak kewalahan memenuhi kebutuhan pasar.
โWaktu pandemi, stok madu sampai kurang karena permintaan sangat tinggi. Banyak pembeli dari luar daerah datang langsung, terutama dari Probolinggo,โ jelasnya.
Dengan potensi alam yang mendukung serta pengalaman panjang para peternak, budidaya lebah madu di Lumbang diyakini akan terus menjadi salah satu sektor unggulan yang mampu menggerakkan perekonomian desa sekaligus menjaga tradisi lokal yang telah diwariskan lintas generasi. (*)