September 18, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

FKUB Kota Probolinggo Dorong Pemuda Lintas Agama Jadi Penggerak Pesan Kebaikan di Ruang Digital

0
1001885149

PROBOLINGGO | suarabangilmedia.com — Derasnya arus informasi di media sosial menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi kehidupan sosial dan kerukunan umat beragama. Di tengah transformasi digital tersebut, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo mendorong generasi muda lintas agama tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan sosial sekaligus penjaga kerukunan di ruang digital.

Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Pemuda Lintas Agama Kota Probolinggo yang diselenggarakan FKUB Kota Probolinggo di Aula KPU Kota Probolinggo, Jumat (18/9/2026).

Sarasehan mengangkat tema utama: “Digitalisasi Berkarakter: Penguatan Literasi dan Jurnalisme Digital sebagai Fondasi Generasi Muda Lintas Agama Kota Probolinggo yang Cerdas, Beretika, dan Berdaya Saing.”

Kegiatan tersebut mempertemukan unsur Pemerintah Kota Probolinggo, FKUB, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, pegiat literasi digital, serta pemuda lintas agama.

Untuk memperkaya perspektif peserta, sarasehan menghadirkan dua narasumber yang membahas transformasi digital dari sisi pemerintahan dan penguatan kapasitas generasi muda.

Narasumber pertama adalah Dr. Lucia Aries Yulianti, S.STP., M.M., Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Probolinggo, yang menyampaikan materi: “Smart City, Smart Generation: Sinergi Pemkot dan Pemuda Lintas Agama dalam Ekosistem Digital Kota Probolinggo”

Materi tersebut menyoroti pentingnya sinergi antara Pemerintah Kota Probolinggo dan generasi muda dalam membangun ekosistem digital kota.

Konsep smart city tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam pelayanan pemerintahan, tetapi juga membutuhkan smart generation, yaitu generasi yang memiliki kecakapan digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran etika dalam menggunakan teknologi.

Dalam konteks tersebut, pemuda lintas agama dapat menjadi bagian penting dari ekosistem digital Kota Probolinggo. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat transformasi digital, tetapi juga dapat berkontribusi melalui kreativitas, inovasi, produksi konten positif, serta partisipasi dalam berbagai program pembangunan kota.

Sementara itu, narasumber kedua adalah Amir Hamzah, Pegiat Literasi Digital KommitLab, yang menyampaikan materi: “Dari Konsumen Menjadi Kreator: Membangun Generasi Muda Lintas Agama Kota Probolinggo yang Cakap Digital dan Berakhlak”

Materi ini menekankan pentingnya perubahan paradigma generasi muda dari sekadar konsumen informasi menjadi kreator informasi.

Generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengakses media sosial dan berbagai platform digital. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk menghasilkan konten yang informatif, edukatif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Lebih dari itu, kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan akhlak dan etika. Kemampuan teknologi tanpa karakter berpotensi melahirkan persoalan baru. Sebaliknya, kemampuan digital yang disertai karakter dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas, inklusif, dan harmonis.

Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, Sp.Og.(K), M.Kes., dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap inisiatif FKUB yang menghadirkan forum dialog pemuda lintas agama dengan isu yang sangat relevan dengan perkembangan zaman.

Menurut Wali Kota, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, memperoleh informasi, membangun relasi sosial, bahkan membentuk opini publik. Karena itu, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sebatas kemampuan menggunakan teknologi.

“Tantangan generasi muda saat ini bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” ujar Aminuddin.

Ia menekankan perlunya generasi muda yang tidak hanya memiliki kecakapan digital (digital savvy), tetapi juga memiliki kebijaksanaan digital (digital wise).

“Bukan sekadar cepat membagikan informasi, tetapi mampu memastikan kebenarannya. Bukan sekadar mampu membuat konten, tetapi memahami dampaknya,” tegasnya.

Menurut Aminuddin, kemampuan tersebut menjadi semakin penting dalam masyarakat yang plural seperti Kota Probolinggo.

Wali Kota juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

“Saring sebelum sharing. Karena satu klik dapat membawa manfaat, tetapi satu klik pula dapat menimbulkan persoalan,” katanya.

Ia mengajak pemuda lintas agama memproduksi dan menyebarluaskan konten yang memperkenalkan Kota Probolinggo sebagai kota yang damai, toleran, inklusif, religius, dan berbudaya.

“Kalau ada konten yang mempertemukan, kita perbanyak. Kalau ada informasi yang mencerdaskan, kita sebarkan. Kalau ada narasi yang memperkuat persaudaraan, kita dukung,” pesannya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang semakin terkoneksi, Wali Kota menilai pembangunan kerukunan tidak cukup hanya dilakukan melalui pertemuan tatap muka.

“Kerukunan tidak cukup hanya dibangun melalui pertemuan tatap muka. Di era digital, kerukunan juga harus dibangun di ruang digital.”

Karena itu, ia mendorong pemuda lintas agama menjadi bagian dari ekosistem digital yang mampu menghadirkan narasi positif tentang keberagaman.

Pemuda dari berbagai agama dapat berkolaborasi membuat konten mengenai toleransi, gotong royong, kebudayaan, lingkungan, pendidikan, sejarah Kota Probolinggo, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.

“Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi, tetapi menjadi ruang membangun peradaban,” ujarnya.

Salah satu gagasan penting dalam sarasehan adalah perlunya mengubah posisi generasi muda dalam ekosistem informasi digital.

Selama ini anak muda sering ditempatkan sebagai konsumen informasi. Padahal, perkembangan teknologi memberikan kesempatan yang luas bagi mereka untuk menjadi kreator, jurnalis warga, edukator, sekaligus penggerak perubahan sosial.

Melalui materi “Dari Konsumen Menjadi Kreator”, peserta diajak memahami bahwa setiap konten yang diproduksi memiliki konsekuensi sosial.

Karena itu, kreativitas digital harus dibangun bersama kecakapan, etika, dan akhlak.

Pemuda lintas agama juga memiliki peluang untuk memproduksi konten bersama yang mengangkat pengalaman keberagaman dan praktik baik kehidupan masyarakat Kota Probolinggo.

Konten-konten tentang gotong royong, dialog lintas agama, kepedulian lingkungan, kegiatan sosial, budaya lokal, pendidikan, dan berbagai praktik kerukunan dapat menjadi narasi alternatif yang memperkuat kohesi sosial.

Sementara itu, perspektif yang disampaikan oleh Dr. Lucia Aries Yulianti, S.STP., M.M. memperkuat pemahaman bahwa pembangunan smart city tidak semata-mata persoalan teknologi. Kota yang cerdas membutuhkan masyarakat yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi.

Karena itu, keberadaan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem digital Kota Probolinggo. Pemuda lintas agama dapat mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyebarkan informasi pembangunan, mengedukasi masyarakat, menciptakan inovasi digital, serta membangun komunikasi publik yang sehat.

Sinergi tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas pemuda dalam menciptakan ekosistem digital yang produktif dan inklusif.

Sarasehan juga memberikan perhatian terhadap penguatan jurnalisme digital dan keterampilan citizen journalism di kalangan generasi muda.

Di era media sosial, setiap orang dapat memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Namun, kemampuan membuat konten tidak otomatis menjadikan seseorang mampu menjalankan prinsip jurnalistik.

Karena itu, penting bagi generasi muda memahami prinsip verifikasi, akurasi, keseimbangan, etika, dan tanggung jawab terhadap publik.

Ketika menemukan sebuah informasi, generasi muda perlu membiasakan diri bertanya:

Apa faktanya? Dari mana sumbernya? Apakah sudah diverifikasi? Siapa yang terdampak? Apa manfaat jika informasi ini disebarluaskan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi kebiasaan baru dalam membangun budaya bermedia sosial yang sehat.

Sementara itu Ketua FKUB Kota Probolinggo Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP menyampaikan pesan penting lainnya adalah perlunya perubahan posisi generasi muda dalam ekosistem digital.

“Pemuda tidak cukup hanya menjadi netizen yang mengonsumsi dan membagikan informasi. Mereka perlu berkembang menjadi citizen yang sadar bahwa setiap aktivitas digital memiliki konsekuensi sosial”, ujar Hudri.

Lebih lanjut Hudri menegaskan bahwa menulis komentar, membuat video, membagikan berita, mengunggah foto, maupun melakukan siaran langsung merupakan aktivitas yang dapat memengaruhi orang lain.

Karena itu, kebebasan berekspresi di ruang digital perlu berjalan bersama tanggung jawab.

Dalam konteks Kota Probolinggo yang memiliki keberagaman agama dan budaya, pemuda lintas agama diharapkan mampu menghadirkan narasi yang menunjukkan bahwa perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.

FKUB Kota Probolinggo berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.

Penguatan literasi digital lintas agama dapat dikembangkan melalui sekolah literasi digital, pelatihan jurnalisme warga, produksi konten positif, kampanye toleransi digital, serta pengembangan jejaring kreator muda lintas agama Kota Probolinggo.

Dengan demikian, pemuda tidak hanya ditempatkan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pelaku perubahan sosial.

Sarasehan ini sekaligus memperkuat komitmen FKUB Kota Probolinggo untuk menjadikan generasi muda sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem kerukunan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Sarasehan ditutup dengan pesan bahwa transformasi digital harus diimbangi dengan pembangunan karakter. Teknologi tanpa karakter dapat menjadi alat penyebar masalah. Tetapi teknologi yang digunakan oleh generasi berkarakter dapat menjadi kekuatan perubahan.

FKUB Kota Probolinggo berharap forum ini menjadi salah satu langkah memperkuat kolaborasi antara pemuda lintas agama dalam merawat kerukunan.

Sebab, masa depan kerukunan tidak hanya ditentukan oleh bagaimana generasi muda hidup berdampingan di lingkungan sosial, tetapi juga oleh bagaimana mereka berinteraksi, berkomunikasi, memproduksi informasi, dan membangun narasi bersama di ruang digital. Ruang digital adalah ruang publik. Karena itu, kerukunan juga harus hadir di dalamnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *