Mas Febri Tegaskan Komitmen: Niatkan Sepenuh Hati Demi Kesehatan Generasi Masa Depan
Pasuruan,Suarabangilmedia.com – Dalam upaya menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan serius di tingkat lokal, Kelurahan Latek, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, mengambil langkah konkret melalui Pelatihan Memasak dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Berbasis Pangan Lokal, Sabtu (17/5). Bertempat di Warung Kampoeng Mangga, Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, kegiatan ini mengusung tema “Isi Piringku” dan disambut antusias oleh para ibu balita serta kader kesehatan.
Pelatihan ini bukan sekadar formalitas kegiatan, melainkan hasil inisiatif nyata dari Pokmas Srikandi yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Ketua Penggerak PKK Kelurahan Latek, Partini Sujarno, memimpin langsung jalannya pelatihan. Turut hadir dan mendukung kegiatan ini, tim gizi dari Puskesmas Raci serta sejumlah tokoh daerah, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Samsul Hidayat dan Anggota Komisi I DPRD, Febri Irawan Darwis.

Camat Bangil, Fathurrohman, yang membuka kegiatan secara resmi, menyampaikan bahwa penyelesaian masalah gizi anak tidak bisa diserahkan hanya kepada pemerintah pusat. “Tanpa intervensi komunitas, upaya menurunkan stunting akan terus stagnan,” ujarnya tegas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi akar rumput sebagai elemen kunci keberhasilan.
Kegiatan ini menyuguhkan pelatihan langsung kepada para ibu, mulai dari pemilihan bahan pangan lokal bernutrisi hingga cara mengolah makanan agar tetap menjaga kandungan gizinya. Materi pelatihan mengacu pada pedoman “Isi Piringku” yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai standar konsumsi seimbang.

Anggota Komisi I DPRD, Febri Irawan Darwis, tampil dengan pernyataan lugas. Ia menekankan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun SDM unggul sejak dini. “Ini bukan rutinitas seremonial. Ini adalah investasi untuk menyelamatkan masa depan anak-anak kita. Maka, niatkan sepenuh hati,” ujar Mas Febri.
Pernyataan Febri mencerminkan urgensi yang sering kali terabaikan. Di tengah banyaknya program gizi yang digelar, hanya kegiatan yang menyentuh praktik nyata di lapangan seperti ini yang mampu mengubah kebiasaan dan pola konsumsi rumah tangga.
Sri Ulam, AMd.Gz., nutrisionis dari Puskesmas Raci, menyampaikan materi edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan zat gizi mikro dan makro, serta penggunaan bahan pangan lokal yang terjangkau namun kaya manfaat. Ia juga menyoroti kesalahan umum dalam pola makan balita yang kerap terjadi di masyarakat.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak lahir dari konferensi atau seminar, melainkan dari dapur rumah tangga yang sadar akan pentingnya gizi. Dengan pendekatan langsung dan berorientasi pada praktik, program semacam ini patut direplikasi di wilayah lain.
Pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal dari gerakan masif yang bukan hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga membentuk budaya sadar gizi. Dengan sinergi lintas sektor dan semangat gotong royong, cita-cita membangun generasi sehat tak lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata yang sudah dimulai hari ini. (Santok/SB)