August 3, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Harga Singkong Anjlok, Ini Penjelasan DPN TMI dan Solusi Edukatif untuk Lindungi Petani

0
Screenshot_20250524_205148

Jakarta, Suarabangilmedia.com – Harga jual singkong di tingkat petani terus merosot dalam beberapa bulan terakhir. Di banyak daerah, harga jatuh di bawah Rp1.000 per kilogram, jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp1.350. Situasi ini membuat banyak petani merugi bahkan terancam kehilangan sumber penghidupan utama mereka.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Tani Merdeka Indonesia (DPN TMI), Don Muzakir, menilai bahwa penyebab utama merosotnya harga adalah ketidakseimbangan sistem tata niaga singkong dan masih masuknya impor tepung tapioka dengan harga murah dari luar negeri.

“Impor tepung tapioka dengan harga hanya Rp600 hingga Rp800 per kilogram membuat produk dalam negeri tidak mampu bersaing. Dampaknya, industri pengolahan menekan harga beli singkong lokal agar tetap bisa bertahan,” ungkap Don dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Sabtu (24/5/2025).

Untuk diketahui, tepung tapioka berasal dari olahan singkong. Ketika tepung dari luar negeri masuk dengan harga murah, maka industri dalam negeri cenderung memilih bahan baku tersebut karena lebih hemat, tanpa memperhitungkan nasib petani lokal.

Don menyebutkan, beberapa perusahaan masih membeli singkong sesuai harga acuan pemerintah, namun ada juga yang membeli jauh lebih murah. Perbedaan ini menunjukkan perlunya pengawasan ketat dan keadilan dalam tata niaga agar tidak merugikan petani.

“Jika dibeli di bawah Rp1.350, apalagi sampai Rp1.000, petani rugi. Biaya produksi mereka saja sudah tidak tertutupi. Inilah pentingnya peran negara untuk memastikan harga di tingkat petani tetap layak,” tegas Don.

Sebagai solusi, DPN TMI mendorong pemerintah segera menerbitkan kebijakan larangan terbatas impor tepung tapioka. Menurut Don, langkah ini akan memaksa industri menyerap hasil produksi dalam negeri dengan harga yang sesuai HAP.

Don juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan terhadap petani dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan yang menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Pak Prabowo selalu menegaskan bahwa swasembada pangan dimulai dari petani yang sejahtera,” katanya.

Pemerintah melalui Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono disebut telah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi petani singkong. Mereka menginginkan kualitas dan kuantitas singkong meningkat, dan hasilnya terbeli dengan harga baik.

“Wamentan Sudaryono bahkan secara tegas menyatakan bahwa pemerintah ingin harga singkong petani stabil dan wajar. Ini membuktikan keseriusan negara dalam mendampingi petani kita,” ujar Don.

Dalam rangka mendidik dan memberdayakan petani, DPN TMI juga memberikan empat rekomendasi edukatif: penetapan HAP yang adil, pengawasan rantai pasok agar tidak dikuasai segelintir pihak, pengembangan industri olahan berbasis desa, dan kemitraan jangka panjang yang transparan antara petani dan industri.

Don menutup dengan penekanan bahwa petani singkong adalah pilar ketahanan pangan nasional. “Mereka bukan sekadar produsen pangan, tapi pejuang di garis depan. Negara harus hadir, bukan hanya dengan aturan, tapi juga dengan perlindungan yang nyata,” tegasnya. (SantokSB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *