Ketua TP PKK Pasuruan Keliling 24 Kecamatan, Bu Mela Cetak Ibu Hebat Lawan Stunting Lewat Dimsum!
Pasuruan, Suarabangilmedia.com – Gerakan massif penurunan angka stunting di Kabupaten Pasuruan makin terasa. Ketua TP PKK Kabupaten Pasuruan, drg Merita Aristya Yudi—akrab disapa Bu Mela—memimpin langsung upaya tersebut dengan cara unik namun berdampak: mengajak para ibu membuat makanan sehat dan kekinian seperti dimsum.
Kamis (12/6/2025) siang, giliran Kecamatan Pohjentrek yang disambangi. Bertempat di pendopo kecamatan, TP PKK bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan menggelar Bimbingan Teknis Olahan Hasil Peternakan. Kegiatan ini melibatkan para kader PKK kecamatan dan desa, dan berlangsung meriah.
Para peserta bimtek dibagi dalam kelompok, lalu ditantang untuk membuat dimsum dari daging ayam dan sapi. Tak sekadar memasak, hasil olahan juga harus dipresentasikan dengan cantik di atas meja. Dan menariknya, juri utamanya langsung Bu Mela sendiri!
“Dimsum itu favorit anak-anak. Kalau ibu-ibu bisa bikin dengan tampilan yang menarik dan rasa yang enak, anak-anak pasti lebih suka makan buatan rumah daripada jajan sembarangan di luar,” tutur Bu Mela dengan penuh antusias saat mencicipi satu per satu hasil kreasi peserta.
Istri Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo ini menekankan pentingnya kreativitas ibu rumah tangga dalam mengolah makanan bergizi dari bahan lokal. Menurutnya, ketika ibu punya skill dan pengetahuan, keluarga akan lebih sehat dan risiko stunting bisa ditekan sejak dari dapur.
Tak lupa, Bu Mela juga menyemangati seluruh ibu peserta agar tak ragu menjadi pelopor perubahan di lingkungannya. “Ibu-ibu ini ujung tombak ketahanan keluarga. Kalau rumah tangga kuat, generasi kita juga pasti tangguh,” ujarnya dengan senyum khas.
Sementara itu, pihak Dinas Peternakan menyebut bimtek ini sebagai strategi jitu adaptif zaman. Makanan kekinian seperti dimsum dan rice bowl dibuat dari bahan bergizi lokal seperti daging, telur, dan susu. “Kita ingin ibu-ibu punya keterampilan yang relevan dengan tren sekarang tapi tetap bernilai gizi tinggi,” ujar M. Syaifi, Kabid Usaha Peternakan.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini juga ditujukan sebagai pemberdayaan ekonomi. Ibu-ibu didorong agar bisa mengolah produk peternakan menjadi peluang usaha rumahan. “Kalau skill meningkat, hasil olahan bisa punya nilai tambah. Bisa untuk keluarga, bisa juga dijual,” tambah Syaifi.
Dengan pendekatan humanis dan edukatif, Bu Mela membuktikan bahwa gerakan PKK tak lagi kaku atau seremonial. Di tangannya, TP PKK menjadi motor penggerak keluarga sehat dan sejahtera—dari dapur, untuk masa depan Pasuruan yang lebih cerah.(*)
Editor : SantokSB