BPBD Kabupaten Pasuruan Gelar Sapa Destana-Kaltana Relawan PB dan FPRB Kabupaten Pasuruan Menuju Daerah Tangguh Bencana

Rembang, Suarabangilmedia.com – Sabtu, 14 Desember 2024, Waroeng Kampoeng Mangga di Desa Oro-oro Ombo Kulon, Kecamatan Rembang, menjadi lokasi penyelenggaraan acara Sapa Destana-Kaltana. Acara ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara Relawan Pengurangan Bencana (PB) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pasuruan untuk meningkatkan mitigasi bencana di daerah. Kegiatan ini dihadiri oleh Penjabat (Pj) Bupati Pasuruan, DR. Nurkholis, S.Sos., M.Si., CIPA., CICHM, Wakil Bupati Pasuruan terpilih Gus Shobih, Sekda Kabupaten Pasuruan Yudha Triwidya Sasongko, dan Camat Rembang Handara. Acara diawali dengan pembacaan doa oleh Sekretaris Jendral FPRB Kabupaten Pasuruan, Suadi, M.Pd., yang menunjukkan semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan bencana.

H. Sugeng Hariyadi, S.T., Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub Urusan Bencana. Langkah ini bertujuan menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai prioritas pembangunan daerah di Kabupaten Pasuruan.
Penjabat Bupati Pasuruan, DR. Nurkholis, menyoroti banjir besar yang melanda Kabupaten Pasuruan pada akhir tahun 2024. Peristiwa ini menarik perhatian nasional, termasuk Menteri Sosial dan Gubernur Jawa Timur terpilih. Ia menegaskan pentingnya langkah strategis, seperti reboisasi dan pengelolaan aliran sungai, sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah bencana serupa di masa mendatang.

Forum ini menjadi ruang bagi para peserta untuk menyampaikan aspirasi. Ahmad Nur Hasan, Ketua FPRB Kecamatan Winongan, meminta hibah perahu karet untuk mendukung penanganan bencana. Taufik Hidayat dari Kaltana menyoroti kondisi kritis tanggul DAS Kali Kedunglarangan, sementara Amin dari Rejoso menyampaikan kekhawatiran atas pendangkalan Sungai Rejoso akibat aktivitas penambangan.
Menanggapi aspirasi tersebut, DR. Nurkholis berkomitmen untuk membahas lebih lanjut isu-isu yang disampaikan. Kalaksa BPBD H. Sugeng Hariyadi menambahkan bahwa pihaknya akan terus memperkuat mitigasi bencana melalui kerja sama lintas sektor, meski ada tantangan dalam penyediaan sarana seperti perahu karet.

Acara ini juga menjadi momen penting untuk memaparkan rencana strategis BPBD Kabupaten Pasuruan tahun 2025. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD, Sarinah Rostief, ST., MM, menjelaskan program unggulan Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA) yang akan difokuskan pada pengembangan Destana Inklusif berbasis masyarakat adat, dengan Tosari sebagai pilot project untuk Suku Tengger.
Destana Inklusif ini mencakup pembentukan unit layanan disabilitas, pendataan potensi ancaman, dan pemetaan risiko bencana. Sarinah menekankan pentingnya pendekatan Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media, dalam membangun kesiapsiagaan bencana.
Selain itu, acara ini menekankan pentingnya peran komunitas lokal dalam mitigasi bencana. Sekda Kabupaten Pasuruan, Yudha Triwidya Sasongko, menyampaikan dukungan penuh terhadap program yang melibatkan masyarakat secara langsung untuk menciptakan daerah tangguh bencana.

Dengan semangat kolaborasi yang kuat, acara Sapa Destana-Kaltana diharapkan menjadi titik awal bagi Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman bencana. Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan mitigasi bencana berbasis komunitas.
Langkah-langkah inovatif yang dipaparkan dalam forum ini menunjukkan komitmen Kabupaten Pasuruan untuk menjadi daerah yang tangguh, adaptif, dan inklusif dalam menghadapi risiko bencana di masa depan. (SantokSB)