June 27, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Mas Rusdi Gerak Cepat! Bupati Pasuruan Minta Penanganan DBD di Faskes Tak Boleh Lambat

0
WhatsApp Image 2025-06-10 at 11.56.17

Pasuruan, Suarabangilmedia.com – Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, tak ingin main-main soal penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya. Ia meminta seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di Kabupaten Pasuruan gerak cepat alias gercep dalam menangani pasien DBD. Penekanan ini disampaikan langsung saat memberikan pengarahan kepada seluruh Kepala Puskesmas se-Kabupaten Pasuruan di Aula Dinas Kesehatan, Selasa (10/6/2025) pagi.

“Target kita penanganan kasus DBD lebih baik. Mulai pencegahan sampai penanganan kedaruratan pasien harus set-set wet. Jangan sampai menunggu lama,” tegas Mas Rusdi—sapaan akrab Bupati Pasuruan—dengan gaya khasnya yang lugas dan tanpa basa-basi.

Mas Rusdi menyampaikan kekhawatirannya terkait tren peningkatan kasus DBD di Kabupaten Pasuruan. Data menunjukkan, jumlah kasus naik dari 724 kasus di tahun 2023 menjadi 824 kasus di 2024. Bahkan hanya dalam waktu sebulan, per Mei 2025, sudah tercatat 169 kasus, dengan satu warga dinyatakan meninggal dunia akibat DBD.

Tak ingin kasus terus bertambah, Mas Rusdi menegaskan pentingnya sinergi semua pihak—mulai dari puskesmas, pemerintah desa, hingga masyarakat. Ia mengingatkan, upaya pencegahan harus digalakkan, dan saat pasien muncul, penanganan medis tidak boleh ditunda. “Puskesmas harus fast response. Gak ada alasan nunggu lama-lama lagi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya langkah proaktif dari puskesmas, seperti penyuluhan, deteksi dini kasus, hingga fogging dalam waktu maksimal 2×24 jam setelah laporan masuk. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan edukasi 3M plus harus menjadi bagian dari rutinitas yang dilakukan secara kolektif dan konsisten.

“Selama ini yang bikin telat itu kadang bukan karena nggak bisa, tapi karena kurang koordinasi. Nah, mulai sekarang saya minta setiap kasus langsung dilaporkan dan langsung ditangani. Jangan sampai telat dan menimbulkan korban jiwa,” tegasnya lagi.

Dukungan penuh juga datang dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan, dr Ani Latifah. Ia menyebut pentingnya pelaporan cepat dari puskesmas maupun rumah sakit, terutama dari faskes swasta yang selama ini cenderung telat. “Begitu ada laporan, tim kami langsung turun lakukan penyelidikan epidemiologi dan koordinasi dengan desa,” jelasnya.

Tak hanya itu, Dinkes juga mendorong masyarakat aktif membersihkan lingkungan. Genangan air, saluran mampet, dan potensi sarang nyamuk Aedes aegypti jadi sasaran utama. “Kalau masyarakat mau gotong royong dan sadar, rantai penyebaran DBD bisa kita putus bersama,” ujar Ani.

Langkah cepat, gaya tegas, dan semangat kolaborasi menjadi ciri khas kepemimpinan Mas Rusdi. Dengan komando yang jelas dan arah kebijakan yang responsif, ia ingin memastikan bahwa DBD bukan lagi ancaman yang dibiarkan menyebar. “Saya ingin warga Pasuruan sehat, dan itu butuh kerja bersama. Nggak bisa kerja sendiri-sendiri,” pungkasnya. (SantokSB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *