Suryawan Wibisono: Inovator Bibit Padi Jelita, Pelopor Panen 14Ton/Hektare
Dalam dunia pertanian, sosok Suryawan Wibisono dikenal sebagai figur yang berhasil mencetak terobosan luar biasa melalui lahirnya varietas Padi Unggulan Jelita (Kalina x Inpari 5). Di tengah tantangan produktivitas pertanian yang kerap naik turun, ia hadir membawa harapan baru bagi para petani Indonesia: panen melimpah dengan hasil hingga 10 ton per hektare, bahkan berpotensi mencapai 14 ton per hektare.
Awal Kiprah dan Visi Pertanian
Sejak awal, Suryawan yang juga kini menjadi anggota Tani Merdeka Indonesia Pasuruan Raya ini meyakini bahwa kunci sukses dalam pertanian bukan hanya kerja keras di lahan, melainkan juga pemilihan benih unggul. Ia menegaskan, menghasilkan panen padi yang melampaui 10 ton/ha sebenarnya bukan perkara sulit bila petani disiplin dalam tiga hal penting: memilih varietas yang tepat, mengatur dosis pupuk kimia secara bijak, dan membenahi bahan organik (BO) di lahan.

Bagi Suryawan, mengenali karakter varietas yang akan ditanam sama pentingnya dengan manajemen teknis lainnya, seperti pengolahan lahan, irigasi, cuaca, hingga pengendalian hama dan penyakit. Filosofinya sederhana namun kuat: “Petani harus bersahabat dengan varietasnya.”
Lahirnya Padi Jelita
Dari riset panjang dan persilangan cermat, lahirlah Padi Jelita, hasil perkawinan varietas Kalina x Inpari 5. Varietas ini tidak hanya memberi produktivitas tinggi, tetapi juga menjawab kebutuhan pasar dengan tekstur nasi pulen, warna gabah kuning bersih, dan ketahanan yang cukup baik terhadap sejumlah hama dan penyakit.
Berikut karakter unggulan Padi Jelita:
- Umur tanaman: 120 hari
- Tinggi tanaman: 110 – 120 cm, tegak dan kokoh
- Anakan rata-rata: 20 rumpun
- Panjang malai: 30–40 cm
- Tekstur nasi: Pulen dengan kadar amilosa 25,87%
- Berat 1000 butir: 25,6 gram
- Rata-rata hasil: 10 ton/ha, potensi hingga 14 ton/ha
- Ketahanan: agak tahan wereng batang coklat (biotipe 1–3), agak tahan hawar daun bakteri strain III, dan virus tungro
Dengan kombinasi tersebut, Jelita dianggap sebagai varietas tangguh sekaligus ekonomis, cocok untuk ditanam di ekosistem sawah hingga ketinggian 600 mdpl.
Strategi Pertanian Berkelanjutan
Selain fokus pada benih, Suryawan aktif mendorong petani agar tidak bergantung penuh pada pupuk kimia. Ia menganjurkan penggunaan bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah jangka panjang. Baginya, keseimbangan antara input kimia dan organik adalah kunci keberlanjutan pertanian.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim. “Petani masa depan bukan hanya penggarap lahan, tapi juga manajer ekosistem,” tegasnya.
Inspirasi bagi Petani Indonesia
Kehadiran Padi Jelita menjadi simbol semangat baru. Tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memacu optimisme bahwa Indonesia mampu mandiri dalam pangan dengan inovasi anak bangsa. Dedikasi Suryawan Wibisono membuktikan, pertanian modern tetap bisa berakar pada kearifan lokal sambil melaju dengan inovasi global.

Dengan karyanya, ia bukan sekadar peneliti atau pembuat varietas, melainkan inspirator pertanian yang menanamkan harapan di setiap butir gabah yang tumbuh di sawah nusantara. (Santok)