Festival Banjari se-Jatim di SMAN 1 Puri Mojokerto, Jam’iyah Sholawat Santri SCS Gempol Raih Juara Pertama
Mojokerto, suarabangilmedia.com –
Semarak lantunan sholawat menggema di lingkungan SMAN 1 Puri Mojokerto dalam gelaran Festival Banjari se-Jawa Timur, yang menjadi bagian dari rangkaian Castle Outstanding Mgeslim Competition SK SMAN 1 Puri, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan grup banjari terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur dan menjadi ajang prestisius bagi generasi muda pecinta seni sholawat.
Festival tersebut menghadirkan tokoh muda Nahdlatul Ulama, Dr. H. Muhammad Al Barra, Lc., M.Hum., yang akrab dikenal sebagai Gus Barra. Kehadiran Gus Barra memberikan motivasi tersendiri bagi para peserta dan penonton, sekaligus menegaskan pentingnya seni banjari sebagai bagian dari dakwah kultural Islam yang menyejukkan.
Dalam sambutannya, Gus Barra menekankan bahwa festival banjari bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang strategis untuk pelestarian budaya Islam, menumbuhkan kecintaan terhadap sholawat Nabi, serta memperkuat nilai-nilai religius di kalangan generasi muda. Menurutnya, sholawat adalah media dakwah yang mampu menyentuh hati, mempererat ukhuwah, dan menjaga identitas keislaman yang ramah serta berakar pada tradisi.

Ajang ini diikuti oleh 53 peserta terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Timur. Penampilan peserta dinilai berdasarkan kekompakan, kualitas vokal, irama tabuhan, serta penghayatan terhadap makna sholawat. Persaingan berlangsung ketat dan penuh semangat, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas dan kebersamaan.
Prestasi membanggakan diraih oleh Jam’iyah Sholawat Santri SCS, perwakilan dari Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang berhasil menyabet Juara Pertama dalam festival bergengsi tersebut. Jam’iyah ini dinakhodai oleh Gus Muklas, tokoh muda sholawat asal Gempol Joyo, Kecamatan Gempol, yang selama ini konsisten membina santri dan pemuda dalam kegiatan keagamaan berbasis seni islami.
Keberhasilan Jam’iyah Sholawat Santri SCS tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Gempol dan Kabupaten Pasuruan, tetapi juga menunjukkan bahwa pembinaan sholawat yang berkesinambungan mampu melahirkan generasi religius, kreatif, dan berprestasi.
Capaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus menghidupkan tradisi sholawat sebagai bagian dari penguatan karakter generasi muda di Jawa Timur. (Deddy)