Wiwin Ariesta: Kartini dari Pasuruan yang Mewakafkan Diri untuk Perlindungan Anak dan Perempuan
PASURUAN – Suarabangilmedia.com. Di balik jubah akademis dan ketegasannya sebagai praktisi hukum, Wiwin Ariesta, S.H., M.H., menyimpan misi besar yang melampaui sekadar profesi. Wakil Rektor III Universitas Merdeka Pasuruan ini memiliki tekad kuat untuk menjadi “Ibu Peradaban”.
Baginya, menjadi perempuan bukan hanya soal eksistensi. Lebih dari itu, ia ingin memutus mata rantai kekerasan terhadap kaumnya.
Perjalanan hidup Wiwin tidaklah instan. Ia kehilangan sosok ayah di usia muda. Kehilangan itu justru memaksanya untuk berjuang lebih keras dari kebanyakan orang seusianya.
Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan pengolahan tembakau di kawasan industri PIER demi menyambung hidup. Namun di tengah keterbatasan ekonomi, nurani sosialnya justru terasah.
“Dulu saya melihat banyak masyarakat kurang mampu kesulitan akses layanan publik, seperti administrasi rumah sakit. Saya turun tangan membantu mereka secara sukarela. Dari sana saya sadar, banyak orang yang butuh bantuan hukum karena ketidaktahuan mereka,” kenang Wiwin.
Meskipun sempat diarahkan sang ayah untuk terjun ke dunia pertanian, Wiwin memilih jalannya sendiri di dunia hukum. Ia membuktikan kapasitasnya sejak masih mahasiswa.
Saat kuliah, ia menjabat sebagai Presiden BEM Unmer Pasuruan. Ia juga terlibat aktif dalam pengawasan pemilu dan menjadi staf di Panwaslu Kabupaten Pasuruan yang kini bernama Bawaslu.
Setelah berhasil menamatkan pendidikan dan meraih gelar sarjana, ia memilih konsentrasi untuk menjadi praktisi hukum. Pada 2016, ia resmi menyandang gelar advokat.
Sejak saat itu, fokus Wiwin semakin mengkristal. Ia memilih untuk mendalami dan memperjuangkan isu perlindungan terhadap perempuan dan anak. Baginya, dua kelompok inilah yang paling rentan dan sering kali tidak memiliki suara di hadapan hukum. (*)