Water Barrier Kejapanan Gempol Dibuka Malam, Supeltas Berjaga
Gempol | Suarabangilmedia.com – Simpang empat Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang terletak di jalur nasional Surabaya–Malang, ternyata menyimpan praktik unik pada malam hari. Pembatas jalan atau water barrier yang biasanya menutup total persimpangan ini digeser diam-diam oleh oknum sukarelawan. Aktivitas ini sudah berlangsung cukup lama dan menjadi rahasia umum di kalangan warga setempat.
Informasi yang dihimpun dari warga dan pemerintah desa mengungkapkan bahwa water barrier sengaja digeser setiap malam hingga menjelang pagi. Pembukaan ini membuat kendaraan dari arah Surabaya menuju Mojokerto, maupun dari Mojokerto menuju Malang, bisa langsung menyeberang. Mereka tidak perlu memutar jauh via Bundaran Apollo atau jalur Arteri seperti pada siang hari.
Praktik ini dimulai dari tengah malam hingga pukul 05.00 pagi. Di lokasi selalu ada Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas (Supeltas) yang berjaga untuk mengatur kendaraan yang hendak menyeberang. Para supeltas ini adalah warga lokal yang berinisiatif membantu kelancaran lalu lintas pada jam-jam sepi.
“Pembukaan water barrier di simpang empat Kejapanan ini sudah berlangsung cukup lama. Dibukanya mulai tengah malam sampai menjelang pagi, dan di lokasi selalu ada supeltas yang berjaga untuk mengatur kendaraan,” ujar Dani, salah seorang warga desa setempat.
Kepala Desa Kejapanan, Rendi Saputra, membenarkan adanya aktivitas bongkar pasang pembatas jalan tersebut. Menurutnya, pembukaan akses ini dilakukan untuk mengakomodasi mobilitas warga yang ingin berbelanja ke Pasar Desa Kejapanan. Pasar ini mulai ramai pada dini hari.
Para supeltas yang bertugas di lokasi merupakan warga lokal yang bertindak secara sukarela. Mereka tidak dibayar, tetapi memiliki niat untuk membantu penyeberangan kendaraan dan pejalan kaki menuju pasar. Keberadaan mereka sangat membantu warga yang hendak beraktivitas di pasar.
Kendati memudahkan akses ke pasar, pembukaan sepihak ini memicu kekhawatiran terkait keselamatan jalan raya. Jalur nasional Surabaya–Malang merupakan jalur padat yang sering dilalui kendaraan besar, termasuk truk dan bus.
Jika tidak ada pengaturan yang memadai, pembukaan water barrier di malam hari bisa berisiko tinggi. Apalagi jarak pandang pada malam hari terbatas, sementara kecepatan kendaraan di jalur nasional cenderung tinggi.
Pemerintah desa dan pihak terkait masih terus berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik. Di satu sisi, kebutuhan warga untuk mengakses pasar harus terakomodasi. Di sisi lain, aspek keselamatan berlalu lintas tidak boleh diabaikan. (HS)