Nanin: 4 Kunci Gentle Parenting Empati, Hormat, Paham, dan Batasan
Pasuruan | Suarabangilmedia.com – Rangkaian acara Pelepasan TK B dan Kreasi Siswa SD Cendekia Islamic Preschool serta SDI Peradaban Yadika mencapai puncaknya di Auditorium ITB Yadika Pasuruan, Minggu (14/6/2026). Ratusanwali murid, guru, dan undangan memadati ruangan sejak pagi.
Suasana haru dan semangat terlihat dari wajah para orang tua yang mendampingi buah hati mereka di momen penting ini. Acara pelepasan yang diawali dengan kirab siswa dan berbagai penampilan seni berlangsung meriah.
Berbeda dengan sesi seremonial sebelumnya, puncak acara ini berbentuk parenting interaktif. Nanin Suwandhani Dian Aritrana, M.Psi., CH., C.Ht., psikolog klinis sekaligus CEO Invira Humania, tampil sebagai narasumber utama.

Para orang tua tampak antusias menyambut kehadiran Nanin. Mereka sudah tidak sabar untuk mendapatkan wawasan baru tentang pola asuh yang tepat di era modern yang penuh tantangan ini.
Sebagian besar waktu acara diisi dengan diskusi dan tanya jawab langsung antara psikolog dengan audien yang hadir. Suasana terasa hangat, akrab, dan penuh antusiasme dari awal hingga akhir sesi.
Nanin membuka dengan memaparkan empat pilar utama gentle parenting yang sering disalahartikan oleh banyak orang tua: Empathy, Respect, Understanding, dan Boundaries.

Ia menjelaskan bahwa Empathy berarti orang tua harus mampu merasakan apa yang anak rasakan. Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar memahami sudut pandang dan perasaan anak.
Respect artinya menghormati anak sebagai individu yang utuh. Orang tua tidak boleh merendahkan atau mempermalukan anak, meskipun sedang marah atau lelah menghadapi tingkah laku mereka.
Understanding adalah pemahaman mendalam tentang tahap perkembangan anak. Setiap usia memiliki karakteristik berbeda, dan orang tua perlu menyesuaikan ekspektasi serta cara menghadapinya.
Boundaries menjadi pilar yang paling sering dilupakan. Nanin menegaskan bahwa gentle parenting tetap membutuhkan batasan yang jelas, konsisten, dan tegas. Batasan justru membuat anak merasa aman.
Setelah memaparkan keempat pilar tersebut, Nanin membuka sesi tanya jawab. Para wali murid bergantian mengajukan pertanyaan seputar tantangan parenting yang mereka hadapi sehari-hari.
Sejumlah orang tua mengaku sering merasa bersalah ketika harus bersikap tegas pada anak. Nanin menjelaskan bahwa perasaan bersalah itu wajar, tetapi jangan sampai mengorbankan batasan yang diperlukan.
Ia juga membedakan antara disiplin dan hukuman. Disiplin bertujuan mengajarkan anak tentang konsekuensi dan tanggung jawab, sementara hukuman cenderung menimbulkan rasa takut dan trauma.
Nanin juga memberikan tips praktis tentang cara tetap tegas saat anak tantrum tanpa harus mengalah atau marah. Kuncinya adalah tetap tenang, beri batasan, dan dampingi hingga anak reda.
Para orang tua menyimak dengan antusias setiap kata yang diucapkan Nanin. Banyak dari mereka yang mengangguk-angguk paham dan mencatat poin-poin penting di buku catatan masing-masing.
Diskusi berlangsung hidup selama lebih dari satu jam. Nanin dengan sabar menjawab setiap pertanyaan dan memberikan solusi-solusi praktis yang langsung bisa diterapkan di rumah.
Acara ditutup dengan quotes motivasi dari narasumber yang membuat seluruh hadirin bertepuk tangan meriah.
“Begin Your Gentle Parenting Journey. Memberi dan menerima dengan cinta, mengarahkan dengan batasan. Karena cinta tanpa batasan membingungkan, batasan tanpa cinta menakutkan”.