Mangga Putar Pasuruan Banjir Pesanan, Petani Sukorejo Tembus Pasar Luar Daerah
Oplus_131072
PASURUAN | suarabangilmedia.com – Musim panen mangga menjadi momentum menggembirakan bagi petani di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Mangga Gadung Klonal 21 yang dikenal masyarakat sebagai mangga putar atau mangga alpukat kini memasuki masa panen raya dengan kualitas buah yang menjanjikan dan permintaan pasar yang terus berdatangan.
Salah satu petani yang merasakan berkah tersebut adalah Sugiono, petani asal Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Pada Kamis (15/10/2026), kebun mangga yang dikelolanya tengah produktif menghasilkan buah dalam jumlah besar. Dari sekitar 300 pohon yang ditanam di lahan seluas 3,5 hektare, hasil panennya dapat mencapai lima kuintal dalam sehari.
Kondisi cuaca selama musim kemarau dinilai turut mendukung pertumbuhan dan kualitas buah. Situasi tersebut menjadi peluang bagi petani untuk menghasilkan mangga dengan penampilan menarik serta memenuhi kebutuhan konsumen.
Namun, keberhasilan usaha perkebunan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya buah yang dipanen. Proses pemilahan berdasarkan ukuran dan mutu juga menjadi bagian penting sebelum mangga dipasarkan kepada pembeli.
Sugiono membedakan hasil panennya menjadi beberapa kategori, yakni Grade A, Grade B, dan Grade C atau buah hasil sortir. Mangga Grade A yang memiliki ukuran besar, bentuk proporsional, dan kulit mulus dijual dengan harga sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Sementara itu, Grade B dipasarkan dengan kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Strategi tersebut memungkinkan hasil kebun terserap oleh pasar dengan segmen konsumen yang berbeda. Buah berkualitas premium menyasar pembeli yang mengutamakan penampilan dan mutu, sedangkan mangga dengan kualitas di bawahnya tetap memiliki peluang penjualan.
Dari sisi pemasaran, mangga produksi Wonokerto tidak hanya dinikmati masyarakat Pasuruan. Jaringan pelanggan Sugiono telah menjangkau sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, Sidoarjo, Jember, Madiun, dan Banyuwangi. Pengiriman juga dilakukan ke sejumlah wilayah lain, termasuk Jakarta, Bogor, Cirebon, Banten, hingga Kalimantan.
Untuk menjaga kualitas produksi, perawatan tanaman dilakukan secara rutin, terutama melalui pemupukan dan pengendalian hama lalat buah. Salah satu upaya yang diterapkan adalah memasang perangkap berbahan botol plastik bekas dengan atraktan untuk menekan gangguan hama tersebut.
Selain penjualan melalui pelanggan, kebun mangga Sugiono juga terbuka bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman memetik buah secara langsung.
Potensi ini menunjukkan bahwa budidaya mangga di Kabupaten Pasuruan bukan sekadar kegiatan pertanian musiman, melainkan peluang usaha yang dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas, pengelolaan kebun, dan perluasan jaringan pemasaran. Dengan pengelolaan yang konsisten, mangga putar Pasuruan berpeluang semakin dikenal sebagai produk hortikultura unggulan daerah. (AZ)