Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

FKUB KOTA PROBOLINGGO BENTUK FORUM KADER PEREMPUAN MODERASI BERAGAMA, PERKUAT PERAN PEREMPUAN SEBAGAI PELOPOR PERDAMAIAN

0
1002021430

PROBOLINGGO | suarabangilmedia.com – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menyelenggarakan kegiatan Pendidikan Kader Perempuan Moderasi Beragama sekaligus pembentukan Forum Kader Perempuan Moderasi Beragama FKUB Kota Probolinggo, Minggu (1/11/2026), bertempat di Aula PD Muhammadiyah Kota Probolinggo, Jalan Sukarno-Hatta No. 94-B.

Mengusung tema “Perempuan sebagai Kader Perdamaian: Menguatkan Moderasi Beragama dan Kerukunan di Kota Probolinggo”, kegiatan ini menjadi langkah strategis FKUB dalam memperluas partisipasi perempuan lintas agama untuk membangun kehidupan masyarakat yang toleran, inklusif, dan harmonis.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TPKK Kota Probolinggo dr. Hj. Evariani, M.Kes. yang bertindak sebagai pemateri utama, Kepala Kankemenag Didik Kurniawan, jajaran pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh perempuan, pengurus FKUB, serta peserta dari berbagai latar belakang agama dan organisasi perempuan.

Dalam sambutannya, Ketua FKUB Kota Probolinggo, Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP., menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun fondasi kerukunan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah atau komunikasi antartokoh agama. Kerukunan harus tumbuh dari ruang kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, komunitas keagamaan, hingga ruang sosial masyarakat.

“Perempuan bukan sekadar objek program moderasi beragama. Perempuan harus menjadi subjek, penggerak, pengambil inisiatif, bahkan pemimpin dalam gerakan perdamaian. Jika kita ingin membangun kerukunan di tengah masyarakat, mulailah dari keluarga. Jika kita ingin membangun perdamaian antarkelompok, libatkan perempuan,” tegas Hudri.

Ia menjelaskan, pembentukan Forum Kader Perempuan Moderasi Beragama merupakan bagian dari komitmen FKUB untuk memperkuat kerja-kerja kerukunan yang bersifat preventif, edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan. FKUB tidak boleh hanya hadir ketika terjadi persoalan atau konflik, tetapi harus mampu membangun kesadaran dan mencegah potensi konflik sejak dini.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Hudri juga mengingatkan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan atau mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi beragama merupakan cara beragama yang adil, seimbang, bijaksana, serta menghormati martabat manusia dan perbedaan.

“Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan, dan bekerja sama untuk kebaikan. Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup rukun. Justru kedewasaan masyarakat tercermin dari kemampuannya mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.

Pendidikan kader ini diarahkan untuk membangun kapasitas perempuan dalam memahami moderasi beragama, memperkuat wawasan kebangsaan, mengembangkan komunikasi lintas agama, meningkatkan literasi digital, serta membekali peserta dengan kemampuan membangun dialog dan mencegah konflik sosial.

Forum Kader Perempuan Moderasi Beragama juga diharapkan menjadi ruang perjumpaan dan kolaborasi perempuan lintas agama. Tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang menghasilkan kegiatan nyata di tengah masyarakat.

FKUB Kota Probolinggo mendorong forum tersebut mengembangkan sedikitnya lima agenda strategis, yaitu:

  1. Penguatan kapasitas kader, melalui pendidikan dan pelatihan moderasi beragama, wawasan kebangsaan, komunikasi, serta resolusi konflik.
  2. Penguatan jejaring lintas agama, dengan membangun komunikasi, persahabatan, dan kerja sama antarkomunitas perempuan.
  3. Gerakan perempuan pelopor perdamaian, melalui keterlibatan aktif dalam pencegahan intoleransi, prasangka, dan potensi konflik sosial.
  4. Pendidikan moderasi beragama dalam keluarga, dengan menanamkan nilai penghormatan terhadap perbedaan sejak usia dini.
  5. Aksi sosial lintas agama, melalui kegiatan kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan pemberdayaan ekonomi perempuan.

Hudri juga menekankan bahwa forum yang dibentuk tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar memiliki struktur kepengurusan.

“Jangan berhenti pada seremoni. Forum ini harus hidup dalam gerakan nyata. Ketika ada prasangka, hadirkan pemahaman. Ketika ada kebencian, hadirkan kasih sayang. Ketika ada perpecahan, hadirkan dialog. Ketika ada persoalan, hadirkan kepedulian,” pesannya.

Pembentukan forum ini sekaligus menjadi upaya memperluas keterlibatan perempuan dalam agenda pembangunan kerukunan di Kota Probolinggo. Perempuan diharapkan mampu menjadi penghubung antarkelompok masyarakat, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadi teladan dalam penggunaan media sosial yang santun dan bertanggung jawab.

Melalui forum tersebut, FKUB ingin membangun gerakan perempuan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga hadir dalam persoalan kemanusiaan dan sosial. Kerja sama lintas agama diharapkan dapat berkembang dalam berbagai bidang, termasuk kepedulian lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan pendidikan kader dan pembentukan forum ini menjadi bagian dari ikhtiar FKUB Kota Probolinggo untuk menjadikan kerukunan sebagai budaya bersama, bukan sekadar slogan kelembagaan.

FKUB berharap lahir kader-kader perempuan yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan perdamaian. Mereka diharapkan menjadi pelopor kerukunan mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, organisasi, hingga ruang publik.

Dalam acara ini juga adanya pemaparan tentang peran perempuan dalam moderasi beragama dari perwakilan masing-masing agama yang dipandu oleh moderator Jaza’anil Husna. Sedangkan fasilitator atau pemantik perwakilan agama-agama yaitu Nama fasilitator: Sumriye, M.Pd. ( Islam), Dra. Dwi Astuti (Katolik), Kristalia (TITD Sumber Naga), Yunita Sania P (Kristen) dan Ni Wayan Ista (Hindu).
Dilanjutkan sesi berikutnya dengan diskusi. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *