June 15, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Batik Kelor “Canting Cantik Wong Pulungan”, Ikhtiar Ibu-ibu Kepulungan Angkat Potensi Desa

0
Untitled

Gempol | Suarabangilmedia.com – Batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia yang diakui UNESCO terus berkembang dengan kekhasan di tiap daerah. Di Kabupaten Pasuruan, motif unik itu lahir dari daun kelor yang tumbuh subur di lingkungan warga.

Di Dusun Betas, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, puluhan ibu rumah tangga memproduksi batik bermotif daun kelor. Motif lima helai daun bercabang menjadi ciri khas yang membedakan batik mereka dengan daerah lain.

Salah satu pembatik, Solikhah, menuturkan geliat membatik di desanya mulai tampak sejak 2021, pasca pandemi. Saat itu, sebuah perusahaan di kawasan Gempol, PT Sorini Agro Asia Corporindo, memberikan pelatihan membatik kepada dirinya dan sejumlah warga RT 8 RW 10.

“Kami berterima kasih sekali karena sudah dilatih sampai bisa membatik sendiri. Jasanya luar biasa,” ujar Solikhah.

Dari pelatihan tersebut, para ibu-ibu mulai berani memproduksi sekaligus memasarkan karya mereka secara mandiri. Seluruh produk mengusung motif lima daun kelor yang sarat makna. Lima daun tersebut melambangkan Rukun Islam dan lima sila dalam Pancasila, sebagai simbol harapan agar usaha mereka tetap kokoh dan bertahan.

Proses produksi batik dilakukan secara tradisional, mulai dari membuat desain, mencanting, pewarnaan, pencelupan hingga pelunturan malam. Saat ini, terdapat sekitar 20 perempuan yang tergabung dalam komunitas batik, meski dalam praktiknya tidak selalu lengkap karena sebagian juga aktif sebagai kader PKK maupun posyandu.

Batik yang diberi nama “Batik Canting Cantik Wong Pulungan” kini dipasarkan sebagai buah tangan khas desa. Harganya berkisar Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung tingkat kerumitan motif dan proses pengerjaannya.

Kepala Desa Kepulungan, Didik Hartono, menyebut program membatik ini sebagai upaya pemberdayaan perempuan desa. Menurutnya, dukungan pelatihan dari pihak swasta menjadi modal awal bagi warga untuk mengembangkan produk unggulan.

Ke depan, pemerintah desa berencana memperluas pelatihan agar merata di setiap dusun. Harapannya, semakin banyak warga yang memiliki keterampilan membatik dan mampu meningkatkan kesejahteraan melalui potensi lokal yang dimiliki desa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *