Tradisi Kitiran Sewu di Tutur Pasuruan, Permainan Kincir Angin yang Diyakini Redakan Angin Kencang
Tutur | Suarabangilmedia.com – Di tengah kekayaan tradisi yang dimiliki Indonesia, warga Dusun Pronojiwo, Desa Blarang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan masih mempertahankan sebuah permainan unik bernama Kitiran Sewu. Tradisi ini muncul saat wilayah tersebut dilanda angin kencang, di mana masyarakat memainkan ribuan kincir angin sebagai bagian dari kebiasaan turun-temurun.
Permainan tradisional ini menampilkan sekitar seribu kincir angin yang dibuat dari bambu maupun kayu waru gunung. Kincir-kincir tersebut dipasang berjajar dan berputar mengikuti hembusan angin, menciptakan pemandangan khas yang menjadi daya tarik tersendiri.
Kepala Desa Desa Blarang, Darwanto mengatakan tidak ada catatan pasti kapan tradisi tersebut pertama kali dimulai. Namun masyarakat setempat meyakini permainan itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
“Sekitar tahun 1980 tradisi kitiran sewu sudah ada. Waktu saya masih kecil, permainan ini sudah dimainkan warga,” ujar Darwanto saat ditemui Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, kegiatan membuat kitiran kini berkembang menjadi semacam festival budaya yang selalu dinantikan warga. Ratusan masyarakat ikut terlibat mulai dari proses memilih kayu, memotong, hingga merangkai kincir angin hingga siap dipasang.
Tradisi ini biasanya dilakukan saat bulan Ramadan. Selain menjadi cara mengisi waktu menjelang berbuka puasa, kegiatan tersebut juga menjadi ajang mempererat kebersamaan warga desa.
“Main kitiran sewu ini seperti mengalihkan rasa lapar saat puasa. Mulai dari memotong kayu, membentuknya, sampai merapikan bersama-sama,” jelasnya.
Bagi warga setempat, Kitiran Sewu bukan sekadar permainan. Tradisi ini diyakini memiliki makna simbolis, yakni harapan agar angin yang bertiup kencang menjadi lebih tenang.
Salah satu warga, Wahyudi menegaskan masyarakat bersama kelompok sadar wisata (Pokdarwis) berkomitmen menjaga tradisi tersebut agar tetap lestari.
“Tradisi ini harus dipertahankan karena memiliki filosofi yang baik. Kami akan terus menjaganya agar tidak hilang,” pungkasnya. (*)