Ekspor Beras ke Malaysia Disambut Baik, TMI Pasuruan Raya: Bukti Petani Lokal Mampu Bersaing
Jakarta | Suarabangilmedia.com – Langkah pemerintah mengekspor 1.000 ton beras ke Malaysia dengan harga Rp17.000 per kilogram mendapat apresiasi dari kalangan petani. Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Pasuruan Raya, H. Winaryo Sujoko, menilai ini sebagai pengakuan atas kualitas hasil pertanian dalam negeri . Ia menegaskan bahwa ekspor ini menjadi momentum penting bagi petani Indonesia untuk bangkit .
Menurut Winaryo, ekspor ini membuktikan bahwa petani lokal mampu menghasilkan beras yang bersaing di pasar internasional . Selama ini, harga beras di tingkat petani kerap fluktuatif dan merugikan. Dengan adanya kepastian harga ekspor, diharapkan ada efek positif pada stabilitas harga di dalam negeri .
Winaryo yang juga petani berpengalaman puluhan tahun ini menyoroti pentingnya kerja sama berkelanjutan antara Indonesia dan Malaysia. Kebutuhan beras Malaysia mencapai 1,5 hingga 1,7 juta ton per tahun . Menurutnya, ini peluang besar yang harus dimanfaatkan dengan menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan.
Dengan harga ekspor Rp17.000/kg, Winaryo memastikan tidak ada kerugian bagi petani dalam negeri. Apalagi, harga itu disebutnya jauh di atas kabar miring yang beredar di media sosial . Menurutnya, pemerintah harus memastikan rantai pasok dari petani hingga ekspor berjalan transparan dan menguntungkan semua pihak.
Winaryo juga mengingatkan agar keberhasilan ekspor ini tidak membuat pemerintah lengah terhadap kebutuhan di dalam negeri. Stok beras nasional harus tetap aman dan harga di tingkat konsumen terkendali. “Kita dukung ekspor, tapi kedaulatan pangan dalam negeri tetap nomor satu,” ujarnya .
TMI Pasuruan Raya sendiri memiliki program penguatan petani melalui inovasi benih unggul lokal. Dengan adanya pasar ekspor, Winaryo optimis minat petani untuk meningkatkan produksi akan semakin tinggi.
Ekspor perdana ini diharapkan menjadi awal dari pengakuan global terhadap beras Indonesia. Winaryo menekankan pentingnya keberlanjutan dan peningkatan kapasitas petani, bukan sekadar seremonial. Komitmen bersama antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan .
“Petani bukan hanya produsen, tapi tuan rumah bagi ketahanan pangan bangsa,” tegas Winaryo . Dengan optimisme dan kerja keras, ia yakin Indonesia bisa menjadi lumbung pangan regional. (HS)