Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Ekstrem tapi Seru! Warga Lumbang Rayakan HUT RI ke-80 dengan Balap Sepeda Kayu di Jalur Curam

0
Foto-balap-sepeda-kayu-lumbang-6-2571788110 (1)

LUMBANG, Suarabangilmedia.com – Cara unik dipilih warga Desa/Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, untuk menyemarakkan HUT RI ke-80. Mereka menggelar lomba balap sepeda, bukan sepeda biasa, melainkan sepeda kayu tradisional atau yang akrab disebut gelindingan.

Dengan memanfaatkan jalanan menurun yang curam, para peserta meluncur dengan sepeda kayu rakitan. Suasana pun riuh penuh antusiasme warga yang menyaksikan jalannya perlombaan.

“Demi keselamatan, kami diwajibkan memakai helm. Medannya menantang, jadi mental dan keseimbangan sangat dibutuhkan,” ujar Eko, salah satu peserta lomba, Selasa (19/8/2025).

Eko menambahkan, persiapan bukan hanya soal nyali. Gelindingan yang dipakai harus benar-benar kuat agar tidak celaka saat melaju di turunan tajam. Bahkan, butuh waktu hingga seminggu untuk membuat roda kayu yang bisa dipakai dalam lomba.

Panitia lomba, Dimas Eka Syaputra, menjelaskan tradisi balap sepeda kayu sudah ada sejak era 1980-an. Awalnya, gelindingan digunakan sebagai alat sederhana untuk mengangkut rumput. Namun, seiring waktu, pemuda desa menjadikannya lomba khas setiap Agustusan.

“Tujuan kami bukan hanya hiburan, tapi juga melestarikan tradisi. Alat sederhana ini adalah bagian dari sejarah masyarakat sini,” ungkap Dimas.

Tak ayal, lomba balap sepeda kayu selalu ditunggu warga setiap tahun. Selain memacu adrenalin, lomba ini juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur atas kemerdekaan. (*)

Editor : Santok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Promo Iklan Hubungi Kami