Cuaca Ekstrem Bikin Hasil Tangkapan Nelayan Pasuruan Turun, Pemkot Genjot Budi Daya untuk Jaga Pendapatan
PASURUAN, Suarabangilmedia.com – Produksi hasil tangkap nelayan di Kota Pasuruan mengalami penurunan sepanjang 2025. Kondisi cuaca yang sulit diprediksi membuat banyak nelayan memilih tidak melaut, sehingga berdampak langsung pada volume tangkapan mereka.
Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Muallif Arif, menjelaskan bahwa tren produksi ikan di Kota Pasuruan sebenarnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun khusus 2025, jumlah produksi tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Total produksi sementara tahun ini berada di angka 9.796,50 ton.
Angka tersebut menurun dibanding tahun 2024 yang mencapai 10.619,80 ton. Padahal pada 2023 produksi berada di angka 9.726,80 ton dan terus naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 8.839,60 ton. “Setiap tahun meningkat, tapi tahun ini ada penurunan. Perhitungannya masih berjalan,” ujar Muallif atau Ayik.
Cuaca ekstrem menjadi faktor utama yang menekan produktivitas. Ombak besar akibat angin kencang berulang kali terjadi, bahkan sempat memicu bencana yang menimpa nelayan. Kondisi ini memaksa sebagian besar nelayan menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan.
Di sisi lain, berkurangnya populasi ikan di perairan Kota Pasuruan juga memberi tekanan tambahan. Banyak nelayan akhirnya melaut hingga ke kawasan Selat Madura untuk mencari ikan. Namun bila cuaca memburuk, rencana tersebut langsung dibatalkan.
Agar pendapatan nelayan tetap stabil, Pemkot Pasuruan mulai memperkuat sektor budi daya. Program pembesaran ikan dan tambak terus dimaksimalkan sebagai penopang produksi ketika hasil tangkapan di laut menurun.
Beberapa pelatihan budi daya telah digelar Dinas Perikanan, mencakup lobster, lele, hingga berbagai ikan bernilai ekonomi tinggi lainnya. Upaya ini diharapkan menjadi alternatif sekaligus solusi agar penghasilan nelayan tidak bergantung sepenuhnya pada laut.
Pemkot menargetkan budi daya bisa menjadi lini produksi yang mampu menutup penurunan hasil tangkap. “Kami tetap berupaya menjaga kestabilan hasil ikan melalui budi daya terpal dan tambak,” kata Ayik.
Kebijakan ini menjadi langkah antisipatif pemerintah daerah untuk memastikan kesejahteraan nelayan tetap terjaga meski kondisi alam sedang tidak bersahabat. (*)