June 18, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Angin Kencang dan Gelombang Tinggi, Nelayan Pesisir Pasuruan Terpaksa Libur Melaut

0
foto-ol-72-2275668291

LEKOK, Suarabangilmedia.com – Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai gelombang tinggi masih melanda kawasan pesisir Kabupaten Pasuruan dalam dua pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat nelayan tradisional terpaksa menghentikan aktivitas melaut demi keselamatan.

Para nelayan mengaku, sudah hampir tiga pekan tidak melaut karena kondisi laut dinilai sangat berbahaya, terutama bagi perahu berukuran kecil.

Muharror, 40, nelayan asal Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, mengatakan ia sudah dua pekan memilih berhenti melaut. Menurutnya, hembusan angin musim barat kali ini jauh lebih kencang dari biasanya.

“Anginnya sangat kuat, ombak bisa lebih dari dua meter. Sulit diprediksi datangnya. Pagi sekitar jam 08.00 dan malam sekitar jam 21.00 biasanya paling kencang,” ujarnya.

Ia mengaku lebih memilih libur sementara demi keselamatan. “Kami pilih selamat saja. Demi anak istri di rumah,” imbuhnya.

Selama masa “libur paksa” ini, para nelayan mengisi waktu dengan memperbaiki jaring, merawat perahu, hingga mencari pekerjaan sampingan. Sebagian di antaranya menjadi buruh bangunan untuk menyambung kebutuhan hidup.

Kondisi serupa dialami Mustofa, 35, nelayan asal Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok. Ia mengaku perahunya sempat lepas dari tambatan akibat kencangnya angin.

“Ada sekitar enam perahu yang lepas tali tambatannya. Termasuk perahu saya. Sempat hanyut ke tengah, tapi alhamdulillah cepat diketahui warga dan bisa diselamatkan,” ungkapnya.

Meski hanya mengalami kerusakan ringan, Mustofa memilih tidak melaut sampai cuaca benar-benar aman.

Cuaca ekstrem ini juga dirasakan nelayan di wilayah pesisir lainnya, termasuk Kecamatan Nguling. Fuadi, 35, nelayan asal Desa Kedawang, menyebut kondisi angin besar sangat berisiko bagi perahu tradisional.

“Banyak yang sempat berangkat, tapi akhirnya balik lagi karena ombak terlalu kuat. Bahayanya besar,” katanya.

Dampak cuaca buruk ini juga berimbas pada penurunan hasil tangkapan ikan. Fuadi menyebut, biasanya ia bisa membawa pulang hasil cumi dalam jumlah banyak. Namun kini hanya sekitar 5–10 kilogram, itu pun nyaris hanya cukup untuk menutup biaya solar dan kebutuhan harian.

Ironisnya, di tengah minimnya hasil tangkapan, harga ikan justru melonjak tajam. Ikan cumi atau nus yang biasanya dijual sekitar Rp 20 ribu per kilogram, kini tembus Rp 50 ribu. Begitu pula ikan kembung atau medai yang naik dari Rp 10 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut dipicu kelangkaan pasokan ikan, akibat banyak nelayan memilih berhenti melaut hampir setengah bulan terakhir.

Kini, para nelayan hanya bisa bersabar sambil memantau perkembangan cuaca dan tanda-tanda alam. Mereka berharap angin musim barat segera mereda, sehingga aktivitas melaut bisa kembali normal dan roda ekonomi keluarga nelayan kembali bergerak. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *