Ponpes Canga’an Bangil, Pesantren Tertua di Jatim yang Menjadi Tempat Ngajinya Ulama Besar Nusantara
PASURUAN, Suara Bangil Media — Bangil sebagai ibu kota Kabupaten Pasuruan menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Jawa Timur. Salah satu bukti nyata adalah keberadaan Pondok Pesantren Canga’an, pesantren kuno yang telah berdiri sejak sekitar tahun 1427 Masehi dan diyakini sebagai salah satu yang tertua di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.
Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga dikenal sebagai pusat dakwah dan tempat menimba ilmu para ulama besar Nusantara. Selama lebih dari enam abad, Ponpes Canga’an menjadi saksi perkembangan Islam di wilayah Jawa Timur.
Pengasuh Ponpes Canga’an, KH Achmad Ridlo’i Cholili, menuturkan bahwa pesantren ini berawal dari sosok ulama karismatik KH Abdul Qodir yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Lowo Ijo. Dalam perjalanan sejarahnya, nama Canga’an diberikan oleh KH Sayyidin—putra Mbah Lowo Ijo—atas arahan guru beliau.
“Dulu ayah saya, Kiyai Sayyidin, diminta gurunya untuk memberi nama Pondok Canga’an ini,” ungkap Kiyai Ridlo’i, Kamis (19/2/2026).
Sebagai generasi penerus kedelapan, ia menyebut banyak tokoh ulama besar pernah menimba ilmu di pesantren tersebut. Di antaranya Kholil Bangkalan atau Syaikhona Kholil, serta pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari dan KH Hasbullah.
Jejak keberadaan para ulama itu masih dapat disaksikan hingga kini. Salah satunya berupa kamar yang dahulu ditempati saat nyantri dan tetap dirawat sebagai tempat tabarukan oleh para peziarah.
“Banyak yang datang untuk tabarukan di sini. Kami rawat peninggalan itu agar sejarah para ulama yang pernah mondok di sini tetap terjaga,” jelasnya.
Selain kamar santri, terdapat pula sumur tua yang diyakini digali oleh Syaikhona Kholil ketika Bangil dilanda kemarau panjang. Air sumur tersebut hingga kini masih dimanfaatkan oleh santri maupun masyarakat sekitar.
Ada pula kentongan legendaris yang konon suaranya pernah terdengar hingga Bangkalan, Madura, ketika dibunyikan oleh Syaikhona Kholil saat masih menjadi santri.
“Sejak remaja, beliau sudah menunjukkan karomahnya. Salah satunya kentongan ini yang suaranya sampai Madura,” tuturnya.
Ciri khas lain pesantren ini adalah pohon sawo tua bercabang tiga dari akarnya. Menurut dzurriyyah pesantren, pohon tersebut melambangkan konsep tauhid, yakni sifat wajib, jaiz, dan mustahil bagi Allah.
Tradisi lama lainnya yang masih dipertahankan adalah pembagian asrama atau ribath berdasarkan daerah asal santri, seperti ribath Bangkalan dan Sumenep dari Madura, serta ribath Jawa, Kudus, dan Bonang.
“Banyak peninggalan bersejarah di sini yang masih kami jaga hingga sekarang,” imbuhnya.
Kebanggaan utama Ponpes Canga’an juga terletak pada konsistensinya menjaga sanad ilmu tauhid. Proses pembelajaran masih menggunakan kitab-kitab tulisan tangan beraksara Arab dengan makna Jawa Pegon, sehingga kemurnian ajaran tetap terpelihara sesuai tradisi para ulama terdahulu.
Pada masa awal, pesantren ini hanya menerima santri laki-laki. Namun pada 1978 didirikan pesantren putri bernama Roudlotul Aqo’idi. Ketua Yayasan Roudlotul Aqo’idi Canga’an Bangil, Muhammad Ali Bukhaiti, menjelaskan bahwa nama tersebut memiliki makna mendalam.
“Roudlotul berarti tempat yang indah, sejuk, dan nyaman, sedangkan Aqo’idi berkaitan dengan pengajaran ilmu tauhid yang diwariskan turun-temurun,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, pendidikan formal juga turut dibuka, mulai dari madrasah hingga sekolah umum jenjang SMP, SMA, dan SMK. Awalnya pendidikan putri hanya berfokus pada pengajaran Al-Qur’an bagi anak perempuan sekitar pesantren, namun kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan yang lebih lengkap.
Kini, Ponpes Canga’an tetap berdiri kokoh sebagai salah satu pusat pendidikan Islam bersejarah di Jawa Timur, sekaligus penjaga tradisi keilmuan klasik yang telah diwariskan lintas generasi selama ratusan tahun. (*)