Bantal Bukan Sekadar Tempat Tidur di Pasuruan, Ini Seni Dakwah “Blug Gebluk” yang Bertahan Seabad
REMBANG, | Suarabangilmedia.com – Suara itu terdengar redup, empuk, tapi ritmis. Blug… gebluk… blug. Tidak meledak-ledak, justru di situlah kekuatannya.
Bunyi tersebut lahir dari benda paling sederhana dalam keseharian: bantal. Namun bagi warga Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, “Blug Gebluk” bukan sekadar pukulan. Tradisi ini telah menjadi medium dakwah, ruang belajar, sekaligus perekat sosial yang usianya melampaui satu abad.
Dalam praktiknya, Blug Gebluk merupakan perpaduan unik antara pembacaan syair Islami (syiir) dengan iringan tepuk tangan dan pukulan bantal yang dimainkan secara berkelompok.
Unsur kebersamaan terasa sangat kuat. Setiap ritme dibangun bersama, setiap bait dilantunkan serempak. Suasana yang hidup sekaligus hangat langsung tercipta begitu tradisi ini dimulai.
“Ngawiti kulo kelawan bismillah…” Suara jemaah menyatu, membentuk harmoni sederhana yang sarat makna. Di sela-sela lantunan, ajaran fikih, akidah, hingga akhlak disisipkan dalam bait-bait berbahasa Jawa dan Madura. Semua disampaikan tanpa kesan menggurui.
Ketua Lesbumi MWC Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Rembang, Zainul Arifin, menyebut tradisi ini sebagai salah satu warisan dakwah paling unik di Pasuruan. Bukan hanya karena bertahan lama, tetapi juga karena mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Di balik Blug Gebluk, terdapat dua nama penting: Kiai Zainal Abidin dan KH Abdurrosyid. Keduanya dikenal sebagai perancang awal syiiran ini. Mereka menggunakan pendekatan budaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang saat itu masih minim akses pendidikan formal.
“Syiiran Kiai Abdurrosyid lebih fokus pada akidah, sementara Kiai Zainal Abidin banyak menyusun syiir tentang fikih dan akhlak,” terang Zainul.
Pilihan menggunakan syiir bukan tanpa alasan. Bahasa lisan dalam bentuk tembang lebih mudah diingat oleh masyarakat awam. Ketika dikombinasikan dengan ritme tepuk tangan dan pukulan bantal, pesan dakwah menjadi lebih hidup dan meresap dalam ingatan kolektif.
Menariknya, syiiran yang dilantunkan hingga kini masih dipertahankan secara tekstual sebagaimana diajarkan para pencetusnya. Penyalinan dilakukan lintas generasi agar tetap bisa dipelajari jemaah.
Sebagian naskah masih berupa teks asli, sementara sebagian lain merupakan hasil salinan ulang. Namun semuanya tetap merujuk pada karya dua ulama besar tersebut.
Suara blug gebluk hingga kini masih bisa didengar di desa-desa Kecamatan Rembang. Tradisi ini membuktikan bahwa dakwah tidak selalu harus keras dan menggurui. Dengan ritme sederhana dari bantal dan syair yang meresap, pesan keislaman terus hidup dari generasi ke generasi.
Blug Gebluk telah menjaga napas dakwah di Pasuruan selama lebih dari seratus tahun. Dan tampaknya, tradisi ini masih akan terus berbunyi: blug… gebluk… blug… untuk waktu yang sangat lama. (*)