September 16, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Tabur Bunga Pak Sakera Jadi Momentum Soroti Tiga Persoalan Kebudayaan Pasuruan

0
1001790650

BANGIL | suarabangilmedia.com – Kegiatan Tabur Bunga Puspa Mahardika di Makam Pak Sakera, kawasan Bekacak, Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, Minggu (16/8/2026), menjadi momentum penting bagi para budayawan untuk kembali menyuarakan perhatian terhadap pelestarian sejarah dan kebudayaan di Kabupaten Pasuruan.

Kegiatan yang semula menjadi bentuk penghormatan terhadap Pak Sakera sebagai tokoh perjuangan tersebut berkembang menjadi ruang menyampaikan aspirasi. Para budayawan menilai masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah kebudayaan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

Ketua Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur, Ki Bagong Sabdo Sinukarto, menyebut sedikitnya terdapat tiga persoalan utama yang selama ini diperjuangkan. Pertama, pengusulan Pak Sakera sebagai Pahlawan Nasional. Kedua, penetapan senjata Monteng yang dikenal sebagai senjata andalan Pak Sakera sebagai senjata khas Kabupaten Pasuruan. Ketiga, pembangunan gedung kesenian yang representatif.

Menurut Ki Bagong, perjuangan untuk mendapatkan pengakuan terhadap Pak Sakera bukanlah hal baru. Pihaknya sebelumnya telah berkomunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk anggota DPRD Jawa Timur dan Penjabat Bupati Pasuruan saat itu, Andriyanto. Namun, proses tersebut belum berjalan hingga menghasilkan keputusan akhir.

Ia menegaskan, pengakuan terhadap Pak Sakera memiliki arti penting bagi penguatan identitas sejarah masyarakat Pasuruan. Demikian pula dengan Monteng yang dinilai dapat menjadi bagian dari warisan budaya khas daerah.

Selain persoalan tokoh sejarah dan warisan budaya, kebutuhan gedung kesenian juga menjadi perhatian. Hingga kini, Kabupaten Pasuruan dinilai belum mempunyai fasilitas khusus yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh seniman dan budayawan untuk berkarya, berlatih, menggelar pertunjukan maupun melakukan kegiatan pelestarian budaya.

Ki Bagong berharap pemerintah tidak hanya melibatkan seniman dan budayawan ketika kegiatan seremonial berlangsung. Menurutnya, perhatian terhadap kebudayaan harus diwujudkan melalui kebijakan dan fasilitas yang berkelanjutan.

Aspirasi tersebut mendapat respons dari Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Febri Irawan. Ia mengaku baru mengetahui secara langsung mengenai usulan pembangunan gedung kesenian melalui pertemuan di makam Pak Sakera.

Febri menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan berkoordinasi bersama Komisi IV. Ia juga membuka kemungkinan memanfaatkan bangunan milik pemerintah yang saat ini belum digunakan secara optimal untuk dijadikan ruang kesenian.

Sementara mengenai pengusulan Pak Sakera sebagai Pahlawan Nasional serta penetapan Monteng sebagai senjata khas daerah, Febri menyebut keduanya membutuhkan proses dan tahapan sesuai aturan. Meski demikian, ia menyatakan kesiapannya untuk mendampingi perjuangan tersebut.

Ia juga berharap pembahasan rancangan peraturan daerah mendatang dapat menjadi ruang partisipasi bagi tokoh agama, budayawan, seniman dan pelestari sejarah.

Dengan demikian, Tabur Bunga Puspa Mahardika tidak berhenti sebagai kegiatan mengenang perjuangan Pak Sakera. Momentum tersebut sekaligus membuka kembali pembicaraan mengenai masa depan kebudayaan Pasuruan, mulai dari pengakuan terhadap tokoh sejarah, pelestarian warisan budaya, hingga penyediaan ruang yang layak bagi para pelaku seni dan budaya. (ded)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *