Nenek Penjual Cilok Pasuruan Mislicha Kasib (85) Naik Haji Setelah Menabung Rp10 Ribu Sehari – Konsisten 9 Tahun
Pasuruan | Suarabangilmedia.com – Seorang nenek penjual cilok asal Kota Pasuruan membuktikan bahwa semangat menunaikan ibadah haji tidak mengenal batas usia. Mislicha Kasib (85), jamaah calon haji tertua di Kloter 10 Embarkasi Surabaya tahun 2026, resmi diberangkatkan ke Tanah Suci. Keberangkatannya melalui Bandara Internasional Juanda pada Jumat malam, 24 April 2026, menyita perhatian publik.
Di balik kebahagiaan itu, tersimpan kisah perjuangan yang sangat panjang dan menginspirasi. Sehari-hari, Mislicha bekerja sebagai penjual cilok keliling di wilayah Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Penghasilannya tidaklah besar, hanya sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari.
Namun, dari penghasilan yang pas-pasan itu, ia menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap hari untuk ditabung. Ia juga mengikuti arisan sebagai cara tambahan mengumpulkan uang. Ketekunan kecil yang dilakukan secara konsisten inilah yang akhirnya membuahkan hasil besar.
Pada tahun 2017, Mislicha berhasil mendaftarkan diri untuk berangkat haji dengan setoran awal Rp25 juta. Itu adalah buah dari tahun-tahun kesabaran menahan keinginan belanja demi satu impian: bisa berkunjung ke Baitullah. Impian yang sempat terasa jauh itu kini menjadi nyata.
Perjalanan hidup Mislicha tidak pernah mulus. Setelah sang suami wafat, ia harus membesarkan delapan anak seorang diri tanpa sandaran ekonomi yang mapan. Tapi keadaan itu tidak membuatnya menyerah atau mengubur mimpinya.
Ia tetap bekerja memutar gerobak ciloknya dari satu tempat ke tempat lain. Sambil menyisihkan recehan, ia terus memupuk harapan untuk suatu hari kelak memakai pakaian ihram. Kisahnya menjadi potret nyata bahwa niat yang kuat dan disiplin bisa mengalahkan segala keterbatasan.
Dalam pelaksanaan haji tahun ini, Mislicha tidak berangkat sendirian. Ia didampingi oleh putri bungsunya, Mariatul Kibtiyah (35), yang berangkat melalui skema penggabungan mahram. Pendampingan ini sangat penting mengingat usia Mislicha yang sudah lanjut.
Kehadiran putrinya memastikan bahwa setiap rangkaian ibadah haji dapat dijalani dengan lebih aman dan nyaman. Terlebih bagi jamaah lansia, dukungan fisik dan emosional dari keluarga dekat menjadi faktor krusial.
Kisah nenek penjual cilok ini mengirimkan pesan kuat: tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang mau berjuang, sekecil apa pun langkahnya. Mislicha Kasib telah membuktikan bahwa recehan harian, jika dikelola dengan tekad, bisa mengantar seseorang ke tanah suci. (HS)