May 15, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Peternak Purwodadi Pasuruan Buang Telur Puyuh Imbas MBG

0
dibuang-mahrus-salah-satu-peternak-burung-puyuh-yang-memilih-untuk-membuang-telur-telur-produksi-ternaknya-lantaran-tak-terserap-pasar-muhamad-busthomiradar-bromo-du0Ia

Purwodadi | Suarabangilmedia.com – Lesunya permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak langsung ke peternak telur puyuh di Kabupaten Pasuruan. Setelah bulan Ramadan, komoditas ini nyaris tak lagi terserap pasar. Akibatnya, peternak kelimpungan hingga terpaksa membuang telur yang tidak laku ke sungai.

Kondisi memprihatinkan ini dialami Mahrus, peternak telur puyuh asal Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Ia mengaku harus membuang telur puyuh ke sungai karena sudah busuk. Telur tersebut tidak terserap oleh pasar maupun program MBG.

“Terpaksa dibuang karena sudah tidak laku. Biasanya masih bisa terserap, tapi sekarang benar-benar turun,” ujarnya dengan nada kecewa. Saat ini, permintaan telur puyuh anjlok drastis dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Menurut Mahrus, penurunan permintaan tidak hanya terjadi di pasar umum akibat melemahnya daya beli masyarakat. Penurunan juga terjadi dari dapur MBG yang sebelumnya menjadi penopang utama penjualan telur puyuh. Selama Ramadan, telur puyuh laris manis.

“Waktu Ramadan, telur puyuh banyak dipakai untuk menu kering. Saya pegang pasokan ke puluhan dapur MBG. Tapi setelah Lebaran, hampir tidak dipakai lagi,” ungkap Mahrus. Perubahan menu MBG pasca Lebaran menjadi penyebab utama.

Padahal, Mahrus tidak hanya mengandalkan produksi sendiri. Ia juga menampung hasil peternak lokal lain di sekitarnya. Ia merasa bertanggung jawab kepada peternak kecil yang bergantung padanya.

Di samping itu, Mahrus juga bermitra dengan 17 BUMDes. Mitra ini mencakup penyediaan bibit, pakan, hingga kandang. Kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan usaha peternakan telur puyuh secara kolektif.

“Peternak kecil yang pinjam ke bank jelas terpukul. Saya tampung telur mereka, tapi karena tidak terserap, akhirnya ikut busuk,” jelas Mahrus. Beban ekonomi semakin berat bagi peternak kecil yang memiliki utang bank.

Saat ini, kapasitas produksi Mahrus mencapai sekitar 2 ton telur puyuh per hari. Jumlah ini termasuk hasil dari peternak lokal yang menitipkan telurnya ke Mahrus. Jumlah produksi ini sangat besar namun tidak diimbangi permintaan.

Kondisi ini membuat para peternak telur puyuh di Pasuruan kebingungan. Mereka berharap pemerintah turun tangan membantu pemasaran. Bantuan dalam bentuk program MBG yang berkelanjutan sangat diperlukan.

Program MBG seharusnya membantu peternak lokal, bukan justru membuat mereka bangkrut. Kestabilan permintaan telur puyuh harus dijaga oleh pemerintah. Jangan sampai program yang baik malah berdampak buruk di lapangan.

Para peternak berharap ada solusi cepat dari pemerintah daerah dan pusat. Jika tidak, lebih banyak telur puyuh yang akan terbuang sia-sia. Kerugian peternak akan semakin besar jika dibiarkan berlarut-larut. (HS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *