May 20, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Prof Atip Tegaskan Pentingnya TKA untuk Sinkronisasi Pendidikan Dasar-Hingga-Tinggi di Sidang Senat PTNBH Unesa

0
WhatsApp Image 2025-06-20 at 09.53.50_d69f37ca

Surabaya, Suarabangilmedia.com – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI,Prof. Atip Latipulhayat, S.H., M.H., Ph.D., tampil memukau saat menjadi narasumber dalam Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik PTNBH yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (19/6) hingga Sabtu (21/6). Dalam forum prestisius ini, Prof. Atip membedah secara komprehensif evolusi kebijakan evaluasi pendidikan dari masa ke masa.

Di hadapan para akademisi dari seluruh Indonesia, Prof. Atip menyampaikan pemaparannya dengan tema “Telaah Evaluasi Ujian dari Masa ke Masa 2005-2024.” Ia menjabarkan dengan detail perjalanan sistem Ujian Nasional dan Ujian Sekolah sejak era tahun 2005 yang kala itu menjadi penentu kelulusan, hingga transformasinya menjadi Asesmen Nasional yang lebih berorientasi pada evaluasi sistem pendidikan.

“Kalau dulu nilai Ujian Nasional jadi penentu tunggal, kini kita bergerak ke arah yang lebih inklusif dan holistik,” tegas Prof. Atip. Ia menyoroti pergeseran paradigma yang signifikan, di mana kini penilaian lebih menekankan pada proses, bukan sekadar angka. Sistem baru juga meminimalisasi ketimpangan antarwilayah.

Namun, Prof. Atip tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang masih membayangi evaluasi pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Ia menyoroti rendahnya kualitas soal yang disusun guru, variasi standar yang membingungkan, hingga lemahnya motivasi dalam proses penilaian. “Evaluasi hasil belajar yang tidak terstandar menyulitkan dalam seleksi prestasi, baik untuk masuk perguruan tinggi dalam dan luar negeri maupun dunia kerja,” ujarnya.

Oleh karena itu, Prof. Atip mengusulkan perlunya Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai solusi konkret. Menurutnya, TKA dirancang untuk memberikan tolok ukur yang lebih objektif dan merata, serta tetap mempertahankan otonomi daerah dalam pelaksanaannya. “TKA akan berbasis komputer dan memungkinkan evaluasi individu yang lebih adil,” jelasnya.

Usulan tersebut pun mendapatkan sambutan positif dari peserta sidang, termasuk para ketua senat dari kampus-kampus top seperti ITB, ITS, dan UNESA sendiri. Mereka menilai TKA bisa menjadi jembatan penting antara pendidikan dasar-menengah dengan perguruan tinggi yang selama ini masih kurang selaras.

Kegiatan sidang paripurna ini mengusung tema besar “Mengkaji Ulang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Sinkronisasi dengan Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah”. Selain Prof. Atip, hadir pula Wamen Pendidikan Tinggi Prof. Dr. Fauzan, Dirjen PAUD Dikdasmen Gogot Suharwoto, hingga para rektor dan ketua senat akademik perguruan tinggi ternama.

Khusus pada Jumat (20/6), Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) juga turut menyumbangkan gagasan mengenai pentingnya kebijakan TKA dalam sistem penerimaan mahasiswa baru. Hal ini semakin memperkuat urgensi usulan Prof. Atip yang disampaikan secara sistematis dan berbasis data lapangan.

Dengan pendekatan yang kolaboratif, Prof. Atip meyakinkan bahwa kebijakan TKA bukan sekadar ujian biasa, tapi bagian dari sistem besar reformasi pendidikan nasional yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan. “Ini bukan tentang kembali ke masa lalu, tapi merancang masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Kehadiran Prof. Atip dalam forum strategis ini semakin menegaskan perannya sebagai sosok visioner dalam pendidikan nasional. Dengan gaya komunikatif namun padat data, ia sukses membangun narasi optimisme dan arah baru dalam dunia pendidikan Indonesia. (SantokSB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *