Tragedi Laut Sidoarjo: Perahu Nelayan Pasuruan Terbalik, Dua Saudara Kandung Tewas Dihantam Ombak
BUGUL KIDUL, Suarabangilmedia.com – Laut kembali menelan korban. Sebuah perahu nelayan asal Pasuruan terbalik dihantam ombak besar di perairan Sidoarjo, Minggu (28/9) malam. Dua nelayan perempuan, Suya (54) dan adiknya Khamima (41), meninggal dunia.
Perahu bernama Eki, berukuran 8 meter dan bermesin diesel, membawa tujuh orang nelayan dari Kelurahan Tapaan, Kecamatan Bugul Kidul, serta seorang nakhoda asal Dusun Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton. Mereka berangkat Sabtu (27/9) malam dari Pelabuhan Pasuruan untuk mencari tiram di perairan Juanda, Desa Curah Ombo, Kabupaten Sidoarjo.
Setelah semalam melaut, para nelayan berhasil mengumpulkan 73 sak tiram. Sekitar pukul 17.45, mereka memutuskan pulang. Namun nahas, pukul 19.00, saat berada di perairan Ketingan, perahu dihantam ombak setinggi 2 meter hingga terbalik.
Tujuh orang terlempar ke laut. Idris (44), salah satu korban selamat, menuturkan bagaimana dirinya berjuang melawan ombak.
“Ketika perahu terbalik, kami berserakan di laut. Ombak terus menghantam. Saya berusaha naikkan istri ke perahu yang terbalik, tapi ombak menyeret tiga orang,” ujarnya.
Empat orang berhasil bertahan berpegangan pada tali perahu, yakni Idris, Sunarsih (55), Saparih (38), dan nakhoda Sapi’i. Sedangkan Ulfa (38), Suya, dan Khamima terseret arus.
Empat nelayan yang selamat baru berhasil menepi sekitar pukul 24.00 di bibir pantai, setelah berenang hampir 2 kilometer. “Kami pasrah di laut, badan pegal-pegal dihantam ombak,” kata Idris.
Pagi harinya, sekitar pukul 06.00, mereka ditemukan nelayan asal Panggungrejo, Kota Pasuruan. Dengan motor, keluarga korban menjemput mereka untuk kembali ke Tapaan. Namun tiga orang masih hilang.
Pencarian pun dilakukan kembali. Hingga pukul 09.30, Ulfa ditemukan dalam keadaan selamat, sementara Suya dan Khamima ditemukan meninggal dunia. Kedua jenazah sempat dibawa ke RSUD dr R Soedarsono sebelum dimakamkan di rumah duka.
Kasat Polairud Polres Pasuruan Kota, AKP Edy Suseno, membenarkan proses evakuasi.
“Senin pukul 10.20 tim gabungan Polairud, BPBD, dan Polsek Bugul Kidul mengevakuasi korban. Pukul 10.50, jenazah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan,” ujarnya.
Tragedi ini kembali membuka mata betapa profesi nelayan pencari tiram sarat risiko. Ombak dan angin besar selalu mengintai di tengah laut, bahkan bagi mereka yang sudah terbiasa melaut sejak kecil. (*)