Tragedi Perahu Terbalik di Sidoarjo: Dua Nelayan Pasuruan Tewas, Profesi Turun-Temurun yang Sarat Risiko
BUGUL KIDUL, Suarabangilmedia.com – Duka mendalam menyelimuti masyarakat pesisir Pasuruan setelah insiden perahu nelayan terbalik di perairan Sidoarjo pada Minggu (28/9). Dua nelayan perempuan asal Kelurahan Tapaan, Kota Pasuruan, yakni Suya (54) dan Khamima (41), ditemukan meninggal dunia.
Bagi nelayan setempat, risiko perahu terbalik bukanlah hal asing. Mereka sudah terbiasa melaut hingga ke perairan Sidoarjo untuk mencari tiram, pekerjaan yang sudah turun-temurun menjadi sumber penghidupan keluarga.
Enam nelayan yang terlibat dalam peristiwa ini adalah Idris (44), Sunarsih (55), Saparih (38), Ulfa (38), Suya (54), dan Khamima (41). Mereka berangkat bersama-sama dengan perahu milik Sapi’i, warga Dusun Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton, yang akrab disebut perahu Eki.
Saparih (38), salah satu korban selamat, menuturkan bahwa aktivitas mencari tiram sudah menjadi rutinitas.
“Biasanya seminggu dua sampai tiga kali. Kadang istri ikut. Semua keluarga di sini memang terbiasa melaut,” ujarnya.
Perahu Eki menjadi transportasi utama bagi para nelayan tersebut. Setiap kali berangkat, mereka menyewa dengan biaya sekitar Rp500 ribu untuk antar-jemput.
“Pemilik perahu itu besan saya. Kami sudah biasa pakai perahu itu kalau mencari tiram,” tambah Saparih.
Pekerjaan sebagai pencari tiram memang penuh risiko, tetapi menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Hasil tiram yang didapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak, hingga membeli tanah.
“Saya dari kecil sudah mencari tiram. Dari pekerjaan ini, keluarga bisa bertahan hidup,” tutur Idris (41), salah satu korban selamat lainnya.
Meski Dinas Perikanan telah memberikan pelampung, kenyataannya sebagian nelayan tidak menggunakannya saat melaut. “Kami sudah dikasih pelampung, tapi tidak kepakai,” kata Sulasmi (36), istri Saparih.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa profesi nelayan pencari tiram, meski sederhana, menyimpan risiko besar di tengah laut. Namun bagi keluarga pesisir Pasuruan, pekerjaan ini tetap dijalani sebagai jalan utama untuk bertahan hidup. (*)