Menghadirkan Iklim Ilmiah dan Harmoni Lintas Agama, FKUB Kota Probolinggo Gelar Seminar Nasional Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan titik tengah dalam Masyarakat Multikultural
Probolinggo, suarabangilmedia.com – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo menggelar Seminar Nasional, dengan tema “Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural” . Dalam acara ini juga dilakukan pengukuhan Pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) Periode 2025-2026. Pelaksanaan acara pada tanggal 26 Nopember 2025 di Aula PD. Muhammadiyah Kota Probolinggo Jalan Sutoyo.
Acara ini dihadiri Walikota Probolinggo dr. H. Aminudin, Sp.Og. (K), M.Kes, jajaran pengurus FKUB Kota Probolinggo dan peserta seminar berjumlah 122 orang dari berbagai unsur masyarakat terutama organisasi guru dan ormas keagamaan di kota Probolinggo. Sebagai narasumber adalah Ahmad Sahidah, PhD. Dosen Program Pascasarjana S3 Universitas Nurul Jadid Paiton – Probolinggo dan Romo Ignasius Budiono. O.Carm Dosen STFT Widya Sasana Malang.

Walikota Probolinggo dokter Aminudin dalam sambutannya menyampaikan dalam sambutannya bahwa kota Probolinggo adalah kota yang kaya keberagaman agama, budaya, dan berbagai tradisi hidup berdampingan dan saling melengkapi. “Keragaman yang ada ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi juga investasi peradaban. Namun keberagaman hanya akan menjadi berkah apabila kita kelola dengan prinsip saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga”, ujar Aminudin
Dalam kesempatan ini Aminudin juga mengukuhkan pengurus Forum Kader Muda Penggerak Moderasi Beragama (FKM PMB) yang dibentuk oleh FKUB Kota Probolinggo sebagai forum bagi anak-anak muda lintas agama.

Sementara itu Dr. Ahmad Hudri Ketua FKUB Kota Probolinggo dalam sambutannya menjelaskan peran strategis FKUB. “FKUB adalah jembatan dialog, rumah bersama, dan ruang perjumpaan bagi seluruh elemen masyarakat lintas agama. Jajaran FKUB terus hadir di tengah masyarakat, menghadirkan kesejukan, memastikan ruang publik tetap inklusif, serta memperkuat ketahanan sosial di Kota Probolinggo”, jelas Hudri
Lebih lanjut Hudri menambahkan bahwa tema seminar tentang Agama, Etika dan Perdamaian: Menemukan Titik Tengah dalam Masyarakat Multikultural, sangat relevan dengan kebutuhan bangsa, terlebih menjelang tahun-tahun politik dan perubahan sosial yang begitu cepat.

“Tantangan kita bukan hanya menjaga kedamaian, tetapi juga memastikan agar nilai-nilai etika tetap menjadi fondasi dalam setiap interaksi sosial dan kebijakan publik.
Perdamaian tidak lahir semata-mata dari ketiadaan konflik, melainkan dari hadirnya keadilan, dialog, dan sikap saling memahami. Agama, yang pada dasarnya membawa misi kemanusiaan dan kasih sayang, harus mampu menjadi kompas moral dalam perjalanan masyarakat multikultural”, tandas Hudri.
Usai seremoni pembukaan, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh kedua narasumber. Kesempatan pertama pemaparan pemateri disampaikan oleh Romo Ignasius Budiono. Romo Budiono menyampaikan bahwa dalam konteks masyarakat modern, ada pilar penting untuk menemukan titik tengah kehidupan bersama, yakni: Etika Lintas Iman (Interfaith Ethics)
“Setiap agama membawa pesan universal tentang kebaikan. Ketika nilai-nilai ini dipertemukan, lahirlah etika bersama yang mampu menjadi pedoman harmoni dalam masyarakat. Kota Probolinggo perlu terus membangun ruang dialog yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi masuk ke dalam implementasi kehidupan sehari-hari”, jelas Budiono.

Budiono menambahkan tentang pentingnya penguatan Moderasi Beragama. Bahwa Moderasi bukan memoderatkan ajaran agama, tetapi memoderatkan cara kita memahami dan mengekspresikan agama. Sikap anti-ekstrem, anti-kekerasan, dan anti-diskriminasi harus menjadi prinsip yang terus ditanamkan melalui pendidikan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan ruang publik.
Sementara itu narasumber kedua Ahmad Sahidah memaparkan mengenai pentingnya memperkuat literasi agama yang inklusif, mengembangkan platform dialog antar komunitas, membangun kebijakan negara yang adil bagi semua kelompok agama dan perlunya mengedepankan etika kemanusiaan universal sebagai dasar interaksi.
“Agama dapat menjadi sumber etika universal untuk perdamaian. Dalam Masyarakat multikultural butuh ruang perjumpaan yang menghormati perbedaan. Titik tengah ditemukan melalui dialog, pendidikan, keadilan, dan empati.
Perdamaian terjadi ketika agama dan etika berjalan bersama”, tutup Sahidah.
Usai pemaparan materi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Sesi tanya jawab direspon dengan sangat antusias oleh peserta hadir yang berjumlah 122 orang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan. Namun karena keterbatasan waktu, acara seminar ditutup hingga menjelang waktu magrib tiba.(*)