Rehab Ratusan RTLH di Pasuruan Terancam Molor gara-gara “Hari Baik”? Ini Faktanya!
PASURUAN – Suarabangilmedia.com. Program rehabilitasi rumah tidak layak huni atau RTLH di Kabupaten Pasuruan mulai digulirkan. Namun, pelaksanaan di lapangan diperkirakan tidak akan berjalan serentak. Salah satu penyebabnya unik: kebiasaan warga yang masih menunggu “hari baik” sebelum memulai pembangunan.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Pasuruan, Eko Bagus Wicaksono, mengungkapkan bahwa seluruh penerima manfaat sudah memiliki rekening untuk menampung dana bantuan. Pencairan dana tinggal menunggu tahapan sosialisasi yang dijadwalkan pada bulan ini.
“Rekening penerima manfaat sudah siap semua. Tinggal sosialisasi, lalu Mei mulai tahap fisik,” ujarnya.
Meskipun demikian, Eko mengakui bahwa tidak semua penerima manfaat akan langsung memulai pengerjaan begitu dana cair. Faktor kultural ternyata masih cukup kuat mempengaruhi waktu mulai pembangunan.
“Biasanya masyarakat mencari hari baik dulu sebelum mulai bangun atau renovasi. Kadang baru mulai satu sampai dua minggu setelah pencairan,” terangnya.
Karena itu, pelaksanaan rehab RTLH dipastikan akan berlangsung secara bertahap, menyesuaikan kesiapan masing-masing penerima manfaat. Pemerintah daerah sendiri sudah mengantisipasi hal ini dengan memberikan batas waktu pengerjaan yang cukup longgar.
Setiap unit rumah ditargetkan selesai maksimal dalam waktu tiga bulan. Dengan skema tersebut, seluruh program diproyeksikan rampung paling lambat pada September mendatang.
“Rata-rata sebenarnya bisa selesai sebelum tiga bulan. Tapi kami beri waktu lebih karena tidak semua mulai bersamaan,” jelasnya.
Tahun ini, ada 125 rumah yang mendapat bantuan perbaikan RTLH. Total anggaran yang disiapkan sekitar Rp2,5 miliar. Setiap rumah menerima bantuan sebesar Rp20 juta, dengan rincian Rp16 juta untuk material dan sisanya untuk upah tenaga kerja.
Program ini menyasar sejumlah kecamatan, antara lain Kecamatan Bangil, Gempol, Gondangwetan, dan wilayah lainnya. Diharapkan, meskipun ada tantangan budaya, seluruh rumah dapat direhab sesuai target waktu. (*)