SDN Ngadirejo I Tutur Atasi Telat Siswa dengan Si Biru & AI
Tutur | Suarabangilmedia.com – Pagi di lereng Gunung Bromo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, hampir selalu datang bersama dingin dan kabut.
Di jalan-jalan menanjak yang membelah perbukitan, anak-anak SD dulu harus memulai hari dengan perjuangan yang tidak sederhana. Berjalan jauh, mencari tumpangan, atau menunggu kendaraan yang belum tentu lewat.
Setibanya di sekolah, sebagian dari mereka sudah kehabisan tenaga. Jam pertama pelajaran pun sering berjalan pincang. “Ada anak yang datang dengan napas masih ngos-ngosan. Ada yang terlambat hampir setiap hari,” ujar Kepala SDN Ngadirejo I, Risdiyan Tri Wahyudi.
Masalah itu cukup lama dianggap biasa. Sudah menjadi risiko geografis daerah pegunungan. Tetapi bagi Risdiyan, persoalan tersebut justru menjadi titik awal kegelisahan.
Apalagi di saat dunia pendidikan ramai berbicara tentang transformasi digital, deep learning, hingga AI. Sementara sekolah-sekolah di daerah pinggiran masih bergulat dengan masalah paling dasar, yaitu bagaimana memastikan siswa bisa datang ke sekolah tepat waktu dan dalam kondisi siap belajar.
“Pembelajaran mendalam itu tidak mungkin berhasil kalau anak-anak datang sudah lelah duluan,” katanya. Dari situlah lahir “Si Biru” , sebuah angkutan sekolah berwarna biru cerah yang kini menjadi ikon SDN Ngadirejo I.
Si Biru tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi. Di dalam perjalanan, siswa mengikuti pre-learning session berbasis AI melalui perangkat yang telah disediakan. Mereka bisa belajar materi ringan, mendengarkan cerita edukatif, atau menjawab kuis interaktif sesuai tingkat kelas.
Dengan konsep ini, waktu perjalanan yang biasanya terbuang sia-sia berubah menjadi momen belajar yang produktif. Siswa tidak lagi datang dalam kondisi kelelahan, tetapi justru sudah mendapatkan pemanasan materi sebelum pelajaran dimulai.
Hasilnya, tingkat keterlambatan menurun drastis dan semangat belajar siswa meningkat. SDN Ngadirejo I membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa mengatasi masalah klasik di daerah pegunungan. “Kami tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Yang penting mulai dulu dengan yang bisa kami lakukan,” pungkas Risdiyan. (HS)