July 31, 2026
Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.     Suara Bangil Media, Media Ibu Kota dari Bangil yang menyajikan berita terkini, kabar Pasuruan, informasi lokal, nasional, dan inspirasi masyarakat setiap hari.    

Syi’iran Bluk Gebluk, Tradisi Dakwah Turun-Temurun yang Tetap Hidup di Rembang Pasuruan

0
Untitled

Pasuruan – Suarabangilmedia.com – Di tengah gempuran budaya modern, sebuah tradisi dakwah Islam kuno masih bertahan kokoh di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Syi’iran Bluk Gebluk, seni syair berbahasa Jawa dan Madura yang diiringi tabuhan ritmis, telah lestari selama lebih dari seratus tahun.

Setiap Senin malam, ritual ini bergiliran digelar di rumah-rumah warga dari satu desa ke desa lain. Malam Senin (13/7) lalu, ratusan ibu dari berbagai desa di Kecamatan Rembang tampak berkumpul di kediaman Ustadz Ahmad, salah satu warga setempat, untuk melanjutkan tradisi yang diwariskan turun-temurun ini.

Begitu jumlah peserta dirasa cukup, pertunjukan pun dimulai. Setiap kelompok bergantian melantunkan syair bernuansa dakwah, diiringi tepukan ritmis pada bantal yang menghasilkan suara khas “bluk”. Dari suara itulah, tradisi unik ini kemudian dinamai Bluk Gebluk.

Ketua PAC Lesbumi MWCNU Kecamatan Rembang, Zainul Arifin, menjelaskan bahwa tradisi ini lahir pada tahun 1923. Dua ulama, Kiyai Zainal Abidin dan Kyai Abdul Rosid, menciptakannya sebagai metode pembelajaran sederhana bagi masyarakat awam tentang aqidah, akhlak, dan fiqih.

“Kiyai Hamid mendapat mandat dari Kiyai Rosyid untuk menyebarkan syi’iran versi Jawa hingga dikenal masyarakat di tahun 1950,” ungkap Zainul. Pada masa awal, kesenian ini kerap ditampilkan dalam acara pernikahan warga setempat sebagai hiburan bernuansa religius.

Zainul bahkan menceritakan adanya saksi hidup dari orang pertama di Rembang yang meminta Bluk Gebluk untuk pesta pernikahan anaknya. “Namanya Ustadz Saeri, beliau dulu khotib sholat Jumat yang menanggap Bluk Gebluk di acara pernikahan anaknya,” kenangnya.

Meski dihadiri banyak orang, konsumsi yang dinikmati peserta sangat sederhana, hanya roti dan kerupuk. Bagi warga, kemewahan bukanlah tujuan utama dari berkumpulnya mereka setiap pekan.

“Inilah momen kebersamaan yang indah. Warga lebih mementingkan menjaga tradisi baik daripada mempersoalkan sajian,” tegas Zainul. Kebahagiaan mereka terletak pada silaturahmi dan upaya kolektif melestarikan warisan leluhur.

Keseriusan menjaga tradisi ini membuahkan hasil manis. Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah mendaftarkan Syi’iran Bluk Gebluk ke sistem kekayaan intelektual komunal Kementerian Hukum RI.

Pengakuan resmi ini menjadi bukti bahwa Bluk Gebluk adalah asli milik Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Tradisi dakwah yang lahir dari kesederhanaan ini kini menjelma sebagai warisan budaya yang dijaga dan dibanggakan oleh masyarakat setempat. (AZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *