UNAIR Gelar Summer School Internasional di KUTT Suka Makmur Grati, Konsep Green Economy dan Peternakan Sapi Perah Berkelanjutan Jadi Sorotan
oplus_34
PASURUAN | suarabangilmedia.com – Program The 6th Summer School International Community Development yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR) mengangkat tema “Green Economy and Sustainable Industry” di KUTT Suka Makmur, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai pengembangan industri hijau dan pemberdayaan masyarakat berbasis peternakan berkelanjutan.
Acara tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pasuruan Ainur Alfiyah, Camat Grati Hari H. Saputro, akademisi, mahasiswa internasional, serta pelaku usaha peternakan sapi perah di wilayah Grati.

Dalam sesi utama, narasumber Evi Zainal Abidin memaparkan konsep Progressive Ethical Dairy Farming, sebuah pendekatan modern dalam pengelolaan peternakan sapi perah yang mengintegrasikan nilai etika, kesejahteraan ekosistem, serta penerapan teknologi dan inovasi untuk mendukung keberlanjutan sektor peternakan.
Menurut Evi, konsep tersebut menempatkan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang harus dijaga keseimbangannya. Di sisi lain, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap menjadi bagian penting untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan kelestarian alam maupun kesejahteraan ternak.
Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut lahir sebagai respons terhadap berbagai kritik terhadap sistem peternakan susu skala industri atau factory farming yang dinilai lebih berorientasi pada peningkatan produksi, namun sering mengesampingkan aspek kesejahteraan hewan dan dampak lingkungan.
Evi menegaskan bahwa budaya beternak secara tradisional yang telah berkembang di kawasan eks Kawedanan Grati merupakan warisan berharga yang tidak boleh ditinggalkan. Selama puluhan tahun, masyarakat setempat telah membangun sistem peternakan yang mengedepankan keharmonisan dengan alam serta menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat.
“Peternakan sapi perah di Grati bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai tersebut harus tetap dipertahankan meski teknologi terus berkembang,” paparnya.

Sebagai bentuk implementasi konsep tersebut, Evi memperkenalkan VILA SAPI GRATI, fasilitas peternakan sapi perah dataran rendah yang dirancang untuk memadukan teknologi modern dengan prinsip pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya lokal. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut membuktikan bahwa modernisasi peternakan tidak harus menghilangkan nilai-nilai tradisional yang telah lama menjadi kekuatan masyarakat.
Ia juga mengungkapkan bahwa Grati memiliki sejarah panjang sebagai kawasan peternakan sapi perah dataran rendah. Bahkan, aktivitas tersebut telah berkembang sejak awal abad ke-19, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pengalaman panjang masyarakat dalam mengelola peternakan sapi perah di dataran rendah dinilai menjadi modal besar bagi pengembangan sektor peternakan nasional. Apabila pemerintah ingin memperluas sentra produksi susu tidak hanya di kawasan pegunungan, maka Grati dapat menjadi contoh nyata keberhasilan pengembangan peternakan sapi perah di dataran rendah.
Melalui kegiatan Summer School internasional ini, para peserta diharapkan memperoleh pemahaman bahwa pembangunan ekonomi hijau dapat berjalan beriringan dengan inovasi teknologi, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal. Model peternakan berkelanjutan yang berkembang di Grati pun diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mewujudkan industri peternakan yang ramah lingkungan, produktif, dan berdaya saing. (AZ)